News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tragedi Bunuh Diri pada Anak, Psikiater Ingatkan Perubahan Sikap Jadi Alarm 

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PERUBAHAN PERILAKU ANAK - Perubahan perilaku merupakan tanda peringatan dini yang paling penting dalam kasus bunuh diri pada anak. 

 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:

  • Bunuh diri pada anak kembali membuka diskusi tentang kesehatan jiwa usia sekolah dasar. 
  • Pada kasus bunuh diri hampir tidak pernah berdiri sendiri, tapi akumulasi tekanan psikologis yang tidak tertangani.
  • Kajian WHO dan laporan tren nasional Kemekes ada beberapa faktor dan gejala dini yang bisa dikenali.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tragedi bunuh diri pada anak kembali membuka perbincangan serius tentang kesehatan jiwa usia sekolah dasar. 

Dari sudut pandang kesehatan jiwa anak dan remaja, kasus bunuh diri hampir tidak pernah berdiri sendiri, melainkan lahir dari akumulasi tekanan psikologis yang tidak tertangani.

Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, dari Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, menegaskan bahwa pada anak, makna bunuh diri sangat berbeda dengan orang dewasa.

“Anak tidak sedang ingin mati, ia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat,"ungkap dr Lahargo pada keterangannya, Rabu (4/2/2026). 


Anak Usia 10 Tahun Sudah Paham Kematian, Tapi Belum Siap Menyikapi Beban

Secara perkembangan, anak usia sekitar 9–10 tahun sudah mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen. 

Namun, pemahaman tersebut belum diimbangi dengan kematangan emosi dan kemampuan kognitif untuk menimbang dampak jangka panjang.

Dari sudut pandang kesehatan jiwa, anak masih berpikir konkret dan hitam-putih. 

Ketika berada dalam tekanan, anak mudah sampai pada kesimpulan ekstrem, termasuk keyakinan bahwa masalah akan selesai jika dirinya tidak ada.

WHO mencatat bahwa bunuh diri bukan hanya isu orang dewasa. Pada kelompok usia muda, perilaku ini dapat muncul ketika distres psikologis bertemu dengan minimnya dukungan emosional.

“Pada anak, bunuh diri bukan soal kematian, tapi tentang keputusasaan yang tak punya bahasa," imbuhnya. 

Faktor Risiko Bunuh Diri pada Anak Usia Sekolah Dasar

Berdasarkan kajian Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan laporan tren nasional Kementerian Kesehatan, terdapat sejumlah faktor risiko utama yang berperan dalam kasus bunuh diri pada anak.

Dari sisi individu, risiko meningkat pada anak dengan depresi, kecemasan berat, kesulitan mengatur emosi, serta perasaan bersalah berlebihan hingga merasa menjadi beban bagi orang lain.

Di lingkungan keluarga, tekanan ekonomi kronis, konflik berkepanjangan, kekerasan verbal atau fisik, serta orangtua yang mengalami stres berat atau gangguan mental turut memperbesar kerentanan anak.

Sementara dari faktor lingkungan, perundungan di sekolah, isolasi sosial, serta paparan konten bunuh diri di media dan ruang digital tanpa pendampingan menjadi pemicu tambahan.

Kementerian Kesehatan mencatat tren peningkatan kasus percobaan bunuh diri pada anak dan remaja dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya tekanan sosial, ekonomi, dan digital.

“Bunuh diri pada anak hampir selalu lahir dari akumulasi, bukan satu kejadian,"sambungnya. 

Perubahan Perilaku, Alarm Paling Penting yang Sering Terabaikan

Perubahan perilaku merupakan tanda peringatan dini yang paling penting dalam kasus bunuh diri pada anak. 

Sayangnya, sinyal ini kerap tidak disadari atau dianggap sebagai fase perkembangan biasa.

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain anak menarik diri dan menjadi sangat pendiam, perubahan emosi drastis seperti murung, mudah menangis, atau cepat marah, serta munculnya ucapan bernada putus asa.

Gangguan tidur, mimpi buruk berulang, penurunan prestasi akademik, hingga hilangnya minat bermain juga merupakan sinyal yang tidak boleh diabaikan.

WHO menekankan bahwa mayoritas anak yang melakukan bunuh diri sebenarnya telah menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, namun sering tidak terbaca oleh lingkungan terdekat.

“Perilaku anak berubah bukan tanpa sebab, itu cara jiwa meminta tolong,"lanjutnya. 


Tekanan Ekonomi dan Beban Sistemik pada Kesehatan Mental Anak

Masalah ekonomi memiliki dampak tidak langsung namun mendalam terhadap kesehatan mental anak. 

Anak sering menyerap stres orangtua, meski tidak selalu memahami akar persoalannya.

Dalam kondisi tersebut, anak dapat merasa dirinya sebagai penyebab kesulitan keluarga. 

Rasa bersalah dan tanggung jawab semu pun muncul, padahal beban tersebut seharusnya berada pada orang dewasa.

Secara sistemik, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan individu atau keluarga. 

Minimnya layanan kesehatan jiwa anak yang mudah diakses, rendahnya literasi kesehatan mental, serta lemahnya sistem deteksi dini di sekolah dan komunitas turut memperparah situasi.

“Ketika anak memikul beban orang dewasa, itu tanda sistem belum cukup memeluk,"kata dr Lahargo. 


Pencegahan Harus Berlapis, Tidak Bisa Mengandalkan Satu Pihak*

WHO menegaskan bahwa bunuh diri dapat dicegah melalui intervensi dini, sistem dukungan yang kuat, serta lingkungan yang aman secara emosional.

Di tingkat keluarga, pencegahan dimulai dengan membangun komunikasi emosional, bukan semata disiplin. 

Perasaan anak perlu divalidasi sebelum diberi nasihat, dan orangtua perlu berani mencari bantuan profesional.

Di sekolah, guru perlu dilatih mengenali tanda distres psikologis serta melakukan pertolongan pertama pada luka psikologis. Sistem konseling harus bersifat aktif, disertai budaya anti-bullying yang nyata.

Sementara di tingkat masyarakat dan negara, perluasan akses layanan kesehatan jiwa anak, peningkatan literasi kesehatan mental sejak dini.

Serta, kebijakan yang sensitif terhadap dampak ekonomi keluarga menjadi kunci pencegahan jangka panjang.

“Anak yang didengar tidak perlu berteriak lewat kematian. Mari hadir bagi mereka di setiap musim hidupnya,"pungkasnya. 

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini