News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Campak Bisa Hapus ‘Memori’ Imun Anak, Dokter Ingatkan Risiko Pneumonia Hingga Kematian

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Erik S
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

CAMPAK PADA ANAK - Di balik ruam merah yang terlihat sederhana, campak menyimpan risiko komplikasi berat, bahkan dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dalam jangka panjang.

Ringkasan Berita:

  • Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Jabar menyebut campak dapat menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia yang menjadi penyebab kematian terbanyak.
  • Campak juga bisa memicu immunological amnesia yang membuat anak lebih rentan terhadap berbagai infeksi dalam jangka panjang.
  • Selain itu, komplikasi serius seperti gangguan saraf dan SSPE dapat muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di balik ruam merah yang terlihat sederhana, campak menyimpan risiko komplikasi berat, bahkan dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dalam jangka panjang.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang Jawa Barat dan Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof Dr.dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K) menjelaskan bahwa campak tidak hanya menyebabkan demam dan ruam, tetapi juga pneumonia yang menjadi penyebab kematian terbanyak.

“Bayangkan, 86 persen dari campak yang meninggal, itu disebabkan oleh pneumonia. Kemudian, campak juga meningkatkan risiko untuk anaknya nanti menjadi sakit-sakitan, karena menyebabkan amnesia dari daya tahan tubuh yang sudah ada,"ungkapnya pada media briefing virtual, Sabtu (28/2/2026). 

Fenomena ini dikenal sebagai immunological amnesia, yaitu kondisi ketika sistem imun kehilangan memori terhadap berbagai penyakit yang sebelumnya sudah dikenali tubuh.

Akibatnya, anak menjadi lebih rentan terhadap infeksi lain selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Selain pneumonia, komplikasi lain dapat berupa diare berat, infeksi telinga yang menyebabkan gangguan pendengaran permanen, hingga gangguan saraf berat.

Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), misalnya, dapat muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal dan memiliki angka kematian sangat tinggi.

SSPE merupakan penyakit degeneratif otak progresif yang langka, fatal, dan melumpuhkan, terjadi sebagai komplikasi lanjut dari infeksi virus campak (rubeola) yang menetap

“SSPE itu bukan sekarang, tetapi next. Bahkan dikatakan bisa 23 tahun setelah terkena campak,"lanjutnya. 

Campak juga menular melalui udara (airborne). 

Baca juga: Tekan Penularan Campak, Menkes Drop Vaksin MR Tambahan ke Ratusan Daerah

Virus dapat melayang lebih dari dua jam di udara dan menempel di permukaan. Satu orang dapat menularkan hingga 18 orang lainnya.

Bahkan pada masa inkubasi, ketika anak belum tampak sakit, virus sudah bisa menular.

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa campak bukan penyakit ringan. Risiko komplikasi jangka pendek hingga panjang sangat nyata, terutama pada anak dengan gizi buruk atau belum diimunisasi.

Kesadaran orangtua memahami bahaya campak menjadi langkah awal melindungi anak dari dampak yang tidak terlihat, tetapi bisa berujung fatal.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini