TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah meningkatnya kasus campak, vaksinasi tidak lagi hanya relevan untuk anak-anak. Orang dewasa juga perlu mempertimbangkan perlindungan ini.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Erpryta Nurdia Tetrasiwi, Sp.PD, menegaskan bahwa vaksinasi pada usia dewasa memiliki peran penting dalam mencegah penyebaran penyakit.
“Jadi kalau pertanyaannya dewasa perlu nggak? Perlu,” tegasnya pada media briefing yang diselenggarakan di Tebet Jakarta Timur, Jumat (1/5/2026).
Baca juga: Penyakit Menular Campak Terus Muncul di Indonesia? Ini Penjelasan Menkes
Vaksinasi tidak hanya melindungi individu, tetapi juga orang-orang di sekitar, terutama kelompok rentan.
“Maka dari itu yuk, tetap vaksin, terutama orang-orang yang sangat beresiko,” ujarnya.
Kelompok ini termasuk bayi, lansia, serta individu dengan imunitas rendah seperti penderita kanker.
Herd Immunity Jadi Kunci
Untuk menghentikan penyebaran campak, dibutuhkan cakupan vaksinasi yang tinggi.
“Kalau sudah lebih dari 95 persen orang tervaksinasi, maka ada namanya herd immunity,” jelasnya.
Herd immunity atau kekebalan kelompok membuat virus sulit menyebar karena sebagian besar populasi sudah terlindungi.
Namun, ketika angka vaksinasi turun, risiko wabah meningkat.
Penurunan cakupan vaksinasi tidak lepas dari dampak pandemi COVID-19 dan maraknya gerakan antivaksin.
“Jadi, alhasil lama-lama vaksinasi juga waktu itu ke-skip,” jelas dr. Erpryta.
Selain itu, informasi yang salah seperti mitos vaksin menyebabkan autisme membuat sebagian masyarakat enggan melakukan vaksinasi.
Padahal, hal tersebut sudah terbantahkan secara ilmiah.
Dalam kondisi virus yang sangat mudah menular, vaksinasi menjadi langkah paling efektif untuk melindungi diri.
Kesadaran individu menjadi kunci utama dalam membentuk perlindungan kolektif di masyarakat.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan