Ringkasan Berita:
- Viralnya kekhawatiran soal kandungan eugenol dalam produk herbal memicu perdebatan di media sosial antara konsumen dan apoteker-influencer
- Narasi keamanan berbasis regulasi dan dosis dinilai sebagian warganet sebagai upaya meredam risiko yang dirasakan pengguna, terutama penderita GERD
- Polemik ini mencerminkan tarik-menarik antara pengalaman personal konsumen dan otoritas profesional di ruang digital.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah viralnya keresahan publik terkait kandungan eugenol dalam obat herbal populer, sebuah pola komunikasi yang menarik muncul di media sosial.
Ketika suara-suara konsumen yang cemas mulai mendapatkan traksi, seorang apoteker sekaligus influencer dengan sigap masuk ke dalam perdebatan, menyajikan narasi tandingan yang oleh sebagian kalangan dinilai sebagai upaya untuk menekan (suppress) dan mengecilkan risiko yang sebenarnya nyata.
Gelombang kepanikan, yang dipicu oleh cuitan akun @DS_yantie tentang bahaya eugenol bagi penderita GERD, dengan cepat menjadi perbincangan sosial.
Namun, momentum tersebut seolah dipatahkan oleh cuitani Ariq Muthohhar (@AriqMuthohhar), seorang apoteker yang memilih untuk fokus pada aspek regulasi dan dosis, sebuah argumen yang secara efektif mengalihkan fokus dari pengalaman personal konsumen ke validitas klinis.
"Saya ingin menjelaskan sebagai Pharmacist. Kalau diminum dalam jumlah kecil, biasanya aman, BPOM sudah izinkan sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT)," tulis Ariq, menggunakan otoritasnya sebagai seorang profesional untuk menenangkan situasi.
Baca juga: Tak Sekadar Klaim, Perusahaan Jamu Ini Buktikan Kualitas Obat Herbal lewat Riset Ilmiah
Argumennya yang menyoroti dosis rendah dan persetujuan regulator terdengar meyakinkan.
Sementara sang influencer menekankan bahwa produk tersebut "jarang bikin masalah", sebagian netizen justru merasa sebaliknya.
Pengalaman menyakitkan yang dibagikan oleh pengguna TikTok @mukenxprvqo menjadi antitesis dari narasi 'aman' tersebut.
"Saya pernah kena GERD, yang awalnya saya kira masuk angin biasa dan kemudian minum obat penolak masuk angin. Buset, rasanya kayak mau nggak ada aja. Sakit sekali," tulisnya.
Upaya untuk mengendalikan narasi ini semakin terlihat ketika Ariq meluncurkan "Seri Edukasi Eugenol & Tolak Angin". Dengan visual yang menampilkan jajaran produk.
Seri ini terkesan lebih sebagai kampanye damage control yang terkoordinasi daripada edukasi murni.
Fokusnya bergeser dari membahas risiko menjadi mempromosikan varian mana yang cocok dan tips aman, sebuah manuver yang halus untuk mengembalikan kepercayaan pada produk obat herbal instan.
Fenomena ini menyoroti dinamika kekuasaan baru di era digital. Ketika keluhan organik dari konsumen mengancam citra sebuah brand besar, influencer dengan latar belakang profesional dapat dimobilisasi untuk meluruskan informasi.
Namun, pelurusan ini berisiko menekan suara-suara sah dari mereka yang benar-benar merasakan dampak negatifnya.
Risiko eugenol sebenarnya bukan lagi sekadar perdebatan tentang keamanan sebuah zat.
Baca tanpa iklan