TRIBUNNEWS.COM - Rak suplemen dipenuhi berbagai produk yang menjanjikan manfaat mulai dari meningkatkan daya tahan tubuh, mempercepat penurunan berat badan, menambah energi, hingga "membersihkan" tubuh.
Namun menurut para ahli kesehatan, seperti dilansir SheFinds, banyak suplemen populer di pasaran sebenarnya tidak diperlukan oleh kebanyakan orang sehat, dan dalam beberapa kasus hanya menjadi pemborosan uang.
Meskipun beberapa suplemen dapat bermanfaat bagi orang dengan kekurangan nutrisi tertentu atau kondisi medis khusus, para ahli menekankan pentingnya membedakan antara nutrisi yang didukung bukti ilmiah dan sekadar strategi pemasaran.
Mulai dari produk detoks, pembakar lemak, vitamin C harian, hingga multivitamin, beberapa di antaranya mungkin tidak memberikan manfaat seperti yang diharapkan konsumen.
1. Suplemen Detoks
Suplemen detoks, seperti teh pelangsing perut ("Flat Tummy Tea") atau pil yang diklaim memiliki efek ajaib, sering dipasarkan dengan janji membersihkan tubuh dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Namun, efektivitas produk-produk ini semakin banyak dipertanyakan.
Konsep dasar suplemen detoks adalah membantu tubuh membuang racun dan zat berbahaya sehingga sistem tubuh dapat bekerja lebih optimal. Akan tetapi, menurut Dr. Praveen Guntipalli, Direktur Medis dan pemilik Sanjiva Medical, gagasan tersebut bertentangan dengan proses alami yang sudah dimiliki tubuh manusia.
"Suplemen detoks atau pembersih tubuh telah banyak dikritik karena membuat klaim yang meragukan tanpa bukti ilmiah yang mendukung efektivitasnya," ujarnya. Produk-produk ini sering mengklaim mampu membersihkan tubuh dari racun, meningkatkan energi, dan memperbaiki kesehatan secara umum, tetapi bukti yang mendukung klaim tersebut sangat terbatas.
Tubuh sebenarnya sudah memiliki sistem detoksifikasi alami. Hati dan ginjal secara alami berfungsi menyaring serta membuang zat-zat yang tidak dibutuhkan dari aliran darah.
Baca juga: IDAI Ingatkan Orangtua: Suplemen Bukan Tameng Utama Anak Hadapi Cuaca Ekstrem El Nino
2. Vitamin C
Vitamin C sering dikaitkan dengan peningkatan sistem kekebalan tubuh. Meski kebutuhan vitamin C memang penting untuk kesehatan secara keseluruhan, ahli gizi Krutika Nanavati mengatakan bahwa mengonsumsi suplemen vitamin C belum tentu diperlukan atau memberikan manfaat tambahan.
"Anda tidak membutuhkan dosis yang sangat besar," katanya. Menurut hasil penelitian, vitamin C juga tidak terbukti secara signifikan mencegah flu biasa.
Nanavati menjelaskan bahwa belum ada bukti konsisten yang menunjukkan manfaat rutin dari konsumsi suplemen vitamin C bagi orang yang sudah mendapatkan asupan cukup dari makanan.
Salah satu alasannya adalah karena vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air. Kelebihan vitamin C akan dibuang melalui urine. Dengan kata lain, mengonsumsi vitamin C melebihi kebutuhan tubuh tidak otomatis membuat sistem imun menjadi lebih kuat.
Baca tanpa iklan