TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Masalah gizi pada anak Indonesia kembali mendapat sorotan serius. Studi terbaru dari Indonesia Health Development Center (IHDC) mengungkap fakta yang tidak bisa diabaikan.
Anemia dan gangguan fungsi kognitif masih terjadi pada anak usia sekolah dalam jumlah signifikan.
Penelitian berbasis data lokal ini dilakukan melalui skrining terhadap sekitar 335 siswa sekolah dasar di Jakarta. Hasilnya menunjukkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan.
Akibat masalah gizi, sebanyak 19,7 persen anak mengalami anemia, atau setara dengan hampir 1 dari 5 anak.
Baca juga: Gaya Hidup Sehat Meluas, Industri Nutrisi Diprediksi Tumbuh 2 Digit di 2026
Di sisi lain, 22,1 persen anak mengalami kesulitan dalam working memory, yaitu kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi.
Temuan ini mempertegas bahwa masalah gizi tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga berhubungan langsung dengan kemampuan belajar anak.
Ketua Dewan Pembina IHDC, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek, Sp.M(K). Moeloek, menegaskan pentingnya perhatian serius terhadap kondisi ini.
“Status gizi, tumbuh kembang, dan kemampuan kognitif anak menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang unggul,” ujarnya pada konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026).
Ia juga menyoroti bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari stunting, kekurangan asupan gizi, hingga anemia defisiensi besi yang masih tinggi pada anak usia sekolah.
Tak berhenti pada angka prevalensi, studi ini juga menemukan keterkaitan yang jelas antara kondisi anemia dengan kemampuan kognitif anak.
Anak dengan kadar hemoglobin lebih rendah cenderung memiliki performa working memory yang lebih rendah.
Executive Director IHDC, Ray Wagiu Basrowi, mempertegas temuan tersebut.
“Anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi mengalami kesulitan dalam memproses dan menyimpan informasi,” jelasnya.
Selain anemia, kondisi stunting juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kemampuan kognitif.
Baca tanpa iklan