News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Studi: Estrogen Tinggi Bisa Tingkatkan Risiko Gangguan Memori akibat Trauma

Editor: Tiara Shelavie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

HASIL STUDI - Ilustrasi otak diambil dari situs bebas royalti Pexels. Studi baru menemukan kadar estrogen tinggi di hippocampus dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan memori setelah trauma.

TRIBUNNEWS.COM - Kadar estrogen tinggi di pusat memori otak dapat memperburuk kemampuan seseorang untuk bertahan terhadap peristiwa traumatis, sehingga meningkatkan kecenderungan mengalami gangguan memori atau stres pascatrauma setelah kejadian tersebut, menurut studi baru pada tikus.

Mengutip LiveScience, penelitian yang dipublikasikan pada April di jurnal Neuron journal ini meneliti efek estrogen di otak tikus. Studi tersebut berfokus pada hippocampus, bagian penting otak yang berperan dalam pembelajaran dan memori. Baik mamalia jantan maupun betina menghasilkan estrogen dalam jumlah signifikan di hippocampus, meski hormon ini sering dianggap sebagai “hormon perempuan.”

“Kita sangat bias berpikir perempuan punya estrogen tinggi, laki-laki rendah,” kata salah satu penulis studi, Elizabeth Heller, profesor farmakologi di University of Pennsylvania Perelman School of Medicine. Namun, menurutnya, di wilayah otak lokal ini, produksi estrogen bisa lebih tinggi pada jantan dibanding betina tergantung siklus hormon betina. Kadar estrogen pada hippocampus betina naik turun mengikuti siklus hormon tubuh, sedangkan pada jantan relatif stabil.

Studi ini menunjukkan bahwa konsentrasi estrogen lokal tersebut dapat memengaruhi kerentanan seseorang terhadap gangguan memori setelah stres akut berat. Meski penelitian dilakukan pada tikus, para penulis menilai hasilnya kemungkinan relevan bagi manusia.

“Saya pikir ini sangat dapat diterjemahkan ke manusia,” kata penulis senior studi, Dr. Tallie Z. Baram, profesor ilmu saraf perkembangan dan neurolog anak di University of California, Irvine.

Estrogen Tidak Selalu Meningkatkan Memori

Pengalaman traumatis dapat menyebabkan gangguan memori, termasuk kesulitan mengingat pengalaman pribadi tertentu dan munculnya respons takut terhadap situasi yang sebelumnya aman dan familiar. Jika masalah ini menetap dan disertai ingatan mengganggu tentang trauma, kondisi tersebut diklasifikasikan sebagai Post-traumatic stress disorder (PTSD).

Sekitar 10 persen hingga 12% perempuan mengalami PTSD sepanjang hidupnya, dibandingkan 5% hingga 6% laki-laki. Sebagian perbedaan ini mungkin berasal dari pengalaman hidup yang berbeda, misalnya perempuan memiliki tingkat kekerasan seksual lebih tinggi pada usia muda. Perbedaan biologis juga diduga berperan, tetapi kontribusinya masih belum dipahami dengan baik.

Baca juga: Berapa Tekanan Darah Ideal? Studi Korea Ungkap Angka yang Selama Ini Diperdebatkan

Studi baru ini menyoroti estrogen hippocampus sebagai salah satu perbedaan biologis yang mungkin penting. “Penelitian ini membuka jalur baru yang penting untuk studi PTSD,” kata Victoria Luine, profesor emeritus psikologi di Hunter College, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Dalam studi ini, peneliti mensimulasikan peristiwa traumatis akut dengan memaparkan tikus laboratorium pada berbagai stresor secara bersamaan, termasuk cahaya terang, musik keras, dan bau tikus lain yang sedang stres. Tikus menjalani berbagai tes memori sebelum dan sesudah pengalaman stres, lalu dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengalami stres.

Dibandingkan tikus yang tidak stres, tikus jantan yang stres menunjukkan performa lebih buruk dalam berbagai tes memori, dan gangguan tersebut bertahan selama berminggu-minggu.

“Bahkan satu bulan kemudian, mereka masih mengalami defisit memori—jadi efeknya sangat persisten,” kata Heller.

Pola serupa juga terlihat pada tikus betina yang mengalami stres saat fase proestrus, yaitu fase siklus hormon ketika estrogen memuncak dan tubuh bersiap untuk ovulasi. Kedua kelompok tikus belajar mengaitkan isyarat tertentu dengan pengalaman stres dan menghindarinya, dengan tikus betina lebih sensitif terhadap isyarat tersebut dibanding jantan.

Namun menariknya, tikus betina yang stres saat fase estrus—ketika estrogen turun drastis dan ovulasi terjadi—menunjukkan ketahanan. Perilaku dan memori mereka tetap sebanding dengan tikus yang tidak stres.

“Tikus betina dengan kadar estrogen rendah tampak seperti tidak terpengaruh—mereka sepenuhnya terlindungi,” kata Baram.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini