TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Masih banyak pasangan yang keliru memahami penyebab sulit hamil dengan menganggapnya semata-mata sebagai “masalah perempuan”. Padahal, fakta medis justru menunjukkan bahwa peran laki-laki sangat besar dalam menentukan keberhasilan kehamilan.
Baca juga: Sering Salah Kaprah, Pakar Tegaskan Ibu Hamil dan Pasien Autoimun Justru Wajib Vaksin Influenza
Ketidaktahuan ini kerap membuat penanganan menjadi tidak tepat sasaran, bahkan memicu saling menyalahkan dalam hubungan. Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Eka Hospital PIK, dr Krisantus Desiderius Jebada, SpOG menegaskan bahwa faktor pria menyumbang porsi signifikan dalam kasus infertilitas, sehingga pemeriksaan tidak boleh hanya difokuskan pada perempuan saja.
“Masalah kehamilan itu bukan hanya pada perempuan. Sekitar 40 persen justru berasal dari faktor laki-laki,” ujar dr Krisantus dalam media briefing di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan, proses terjadinya kehamilan sebenarnya sangat kompleks dan melibatkan seleksi ketat secara alami. Dari ratusan juta sperma yang dilepaskan saat ejakulasi, hanya satu yang akan berhasil mencapai dan membuahi sel telur.
“Hanya satu yang dipilih, yang bisa berenang aktif hingga bertemu sel telur,” jelasnya.
Karena itu, kualitas sperma menjadi faktor kunci. Sperma harus memiliki jumlah yang cukup, bentuk yang normal, serta kemampuan bergerak maju dengan baik agar dapat mencapai sel telur di dalam rahim.
Di sisi lain, peluang pembuahan juga dipengaruhi oleh waktu subur perempuan yang sangat terbatas. Menurut dr. Krisantus, sel telur hanya memiliki waktu hidup yang singkat setelah dilepaskan.
“Sel telur itu hanya bisa bertahan sekitar dua jam,” ujarnya.
Sebaliknya, sperma justru memiliki daya tahan lebih lama di dalam rahim, yakni hingga dua sampai tiga hari. Kondisi ini membuat penentuan waktu berhubungan menjadi sangat krusial dalam program kehamilan.
Namun, berbagai masalah pada sperma kerap tidak disadari. Kelainan bisa terjadi pada jumlah, konsentrasi, bentuk, hingga pergerakan sperma.
Baca juga: Penyebab Polisi Buru Bukti Cairan Sperma Libatkan AKBP Basuki, Misteri Kematian Dosen Untag Semarang
“Ada yang volumenya kurang, konsentrasinya rendah, bentuknya tidak normal. Bahkan ada yang geraknya tidak maju, hanya bergetar di tempat,” paparnya.
Kondisi tersebut tentu menyulitkan sperma untuk mencapai sel telur, sehingga peluang terjadinya pembuahan menjadi sangat kecil.
Sayangnya, dalam praktiknya masih banyak pasangan yang hanya memeriksakan kondisi perempuan ketika menghadapi kesulitan memiliki anak. Padahal, tanpa pemeriksaan pada pria, penyebab utama bisa terlewatkan.
“Makanya kami sarankan, laki-laki juga harus diperiksa,” tegas dr. Krisantus.
Ia menekankan bahwa kehamilan merupakan hasil kerja sama antara kualitas sel telur dan sperma. Pemahaman yang tepat diharapkan dapat membantu pasangan lebih fokus mencari solusi medis yang sesuai, tanpa saling menyalahkan satu sama lain.
Baca juga: Sering Salah Kaprah, Pakar Tegaskan Ibu Hamil dan Pasien Autoimun Justru Wajib Vaksin Influenza
Baca tanpa iklan