TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tidak sedikit orang yang menolak vaksin influenza karena merasa dirinya tidak memenuhi syarat.
Padahal, dalam banyak kasus, kelompok yang mengira “tidak boleh vaksin” justru termasuk yang paling membutuhkan perlindungan.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-AI, FINASIM, menyebut fenomena ini sebagai salah kaprah yang cukup serius di masyarakat.
“Banyak orang sebenarnya boleh divaksinasi tapi menolak karena merasa kondisinya tidak memungkinkan,” ujarnya pada media diskusi Perlindungan Tanpa Batas : Pentingnya Influenza bagi Dewasa dan Lansia yang diselenggarakan Kalbe melalui Kalventis di Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).
Baca juga: Influenza Ada Sepanjang Tahun di Indonesia, Ini Waktu Terbaik Vaksin
Salah satu kelompok yang sering ragu adalah ibu hamil. Padahal, mereka termasuk yang sangat dianjurkan untuk mendapatkan vaksin influenza.
“Jadi misalnya ibu hamil, remaster berapapun,” jelasnya.
Alasannya sederhana tapi krusial: perlindungan tidak hanya untuk ibu, tetapi juga untuk bayi.
“Ibunya dulu divaksin pada waktu hamil, supaya menghasilkan antibodi yang bisa ditransfer ke bayinya, ke janinnya,” jelasnya.
Hal ini menjadi penting karena bayi belum bisa menerima vaksin influenza hingga usia tertentu.
Penyakit Autoimun Bukan Penghalang
Kelompok lain yang sering ragu adalah pasien dengan penyakit autoimun seperti lupus atau psoriasis.
Padahal, mereka justru membutuhkan perlindungan ekstra.
“Pasien autoimun itu seperti lukus, dermatitis, psoriasis. Vaksinasi justru penting,” tegasnya.
Risiko infeksi pada kelompok ini lebih tinggi, baik karena penyakitnya maupun efek dari pengobatan yang dijalani.
Karena itu, keputusan vaksinasi sebaiknya tidak didasarkan pada asumsi, melainkan konsultasi medis.
Baca tanpa iklan