News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Bukan Soal Kista Saja, PCOS Kini Berganti Nama Jadi PMOS

Editor: Tiara Shelavie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah kondisi kesehatan yang memengaruhi lebih dari 170 juta perempuan di seluruh dunia kini mendapatkan nama baru setelah bertahun-tahun advokasi global, penelitian, dan perdebatan.

Mengutip PEOPLE, Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) kini resmi akan berganti nama menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), dalam upaya yang menurut para peneliti lebih akurat menggambarkan kompleksitas kondisi tersebut serta dampak kesehatannya dalam jangka panjang, berdasarkan makalah yang diterbitkan Selasa di jurnal The Lancet.

Upaya pergantian nama ini melibatkan lebih dari 50 organisasi pasien dan profesional, termasuk Endocrine Society, setelah kolaborasi internasional selama 14 tahun antara peneliti, dokter, dan orang-orang yang hidup dengan kondisi tersebut.

Selama beberapa dekade, nama “Polycystic Ovary Syndrome” membuat banyak orang percaya bahwa kondisi ini terutama berkaitan dengan kista ovarium. Namun, peneliti mengatakan pemahaman tersebut tidak lengkap dan dalam banyak kasus justru menyesatkan.

“Apa yang kini kita ketahui adalah sebenarnya tidak ada peningkatan kista abnormal pada ovarium, dan berbagai karakteristik kondisi ini sering kali kurang dipahami,” kata Profesor Helena Teede, pemimpin inisiatif pergantian nama tersebut, dalam siaran pers Endocrine Society.

Teede, Direktur Monash Centre for Health Research & Implementation di Monash University sekaligus ahli endokrinologi di Monash Health, mengatakan nama lama telah mereduksi “gangguan hormonal atau endokrin kompleks jangka panjang menjadi kesalahpahaman tentang ‘kista’ dan fokus berlebihan pada ovarium.”

Baca juga: Remaja Alami PCOS Disarankan Terapi Pil KB, Amankah untuk Rahim?

Menurut World Health Organization, PCOS memengaruhi sekitar 10 persen hingga 13% perempuan usia reproduktif di seluruh dunia, dan hingga 70% perempuan dengan kondisi ini mungkin bahkan tidak menyadari bahwa mereka mengidapnya.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesuburan atau siklus menstruasi. Gejalanya dapat mencakup menstruasi tidak teratur, jerawat, pertumbuhan rambut berlebih di wajah atau tubuh, rambut menipis, perubahan berat badan, hingga infertilitas, menurut WHO dan Cleveland Clinic.

Para ahli juga mengatakan kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan fisik dan emosional jangka panjang, meningkatkan risiko masalah seperti resistensi insulin, Type 2 Diabetes, obesitas, hipertensi, dan depresi.

Para peneliti di balik nama baru ini mengatakan dampak kesehatan yang lebih luas tersebut sering kali terabaikan karena cara kondisi ini diberi label.

Istilah baru Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) dipilih agar lebih mencerminkan aspek hormonal, metabolik, dan reproduksi dari kondisi ini.

“Sangat menyedihkan melihat keterlambatan diagnosis, rendahnya kesadaran, dan kurang memadainya perawatan bagi mereka yang terdampak kondisi yang terabaikan ini,” ujar Teede.

Bagi sebagian perempuan yang terlibat dalam proses ini, perubahan nama tersebut menjadi bentuk validasi setelah bertahun-tahun frustrasi.

“Ini soal akuntabilitas dan kemajuan,” kata Lorna Berry, perempuan Australia yang hidup dengan PMOS dan ikut serta dalam proses pergantian nama.

“Ini tentang putri-putri saya, anak-anak perempuan mereka, dan tak terhitung perempuan yang belum lahir. Kami berhak mendapatkan kejelasan, pemahaman, dan layanan kesehatan yang setara sejak awal.”

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini