Ringkasan Berita:
- Wabah hantavirus masih jadi perhatian internasional.
- Kemenkes juga memastikan sistem pelayanan kesehatan siap melakukan penanganan jika ditemukan pasien terinfeksi.
- Kesiapan ini berkaca pada pengalaman Indonesia hadapi pandemi covid-19.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah menegaskan rumah sakit di Indonesia sudah memahami tata laksana penanganan pasien hantavirus.
Dalam keterangannya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan varian hantavirus yang ditemukan di luar negeri berbeda dengan strain yang selama ini terdeteksi di Indonesia.
Baca juga: Kemenkes Pastikan Kasus Hantavirus di Jakarta Terkendali, Kontak Erat Pasien Dipantau
Karena itu, pemerintah fokus memperkuat sistem surveilans dan deteksi dini.
“Dan sekarang, yang terjadi di luar negeri itu variannya berbeda dengan yang ada di Indonesia. Kami lakukan adalah surveillance-nya diperbaiki, kemudian kalau ada kena dan setiap tahun ada yang kena. Itu bisa dikirim ke rumah sakit, rumah sakit sudah tahu cara mengobatinya,” kata Menkes.
Kemenkes juga memastikan sistem pelayanan kesehatan siap melakukan penanganan jika ditemukan pasien terinfeksi.
Berbekal pandemi Covid-19, Indonesia sudah memiliki pengalaman yang jauh lebih baik dalam hal surveilans dan kerja sama internasionalnya.
Saat ini, situasi hantavirus di Indonesia disebut masih terkendali dan belum menunjukkan lonjakan kasus signifikan.
Tentang Hantavirus di Indonesia
Hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus kepada manusia.
Penularan dapat terjadi melalui urine, feses, air liur, atau debu yang terkontaminasi.
Baca juga: Suspek Hantavirus di Yogyakarta Negatif, DPR Tetap Minta Pemerintah Waspada
Gejala awal umumnya meliputi demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan pada kasus berat.
Ia mengatakan, hantavirus di Indonesia sudah ditemukan sejak 1991, namun jenisnya bukan Andes Virus yang baru-baru ini ditemukan pada kapal pesiar MV Hondius.
“Di Indonesia sudah lama teridentifikasi. Dan sekarang, yang terjadi di luar negeri, itu variannya berbeda dengan yang ada varian di Indonesia," ujar Menks
Hingga kini andes virus belum pernah dilaporkan ditemukan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus.
Pemerintah telah menyiapkan 198 rumah sakit jejaring penyakit infeksi emerging, termasuk 21 rumah sakit sentinel di 20 provinsi untuk pemantauan kasus dan pencegahan kejadian luar biasa (KLB).
Kapasitas pemeriksaan laboratorium juga memadai dengan 221 alat PCR yang tersebar di berbagai daerah.
Selain itu, tersedia 143.917 APD cover dan 2.185 alat swab.
Untuk penanganan pasien, ketersedian tempat tidur juga kategori memadai.
Dengan rincian, 3.467 tempat tidur ICU standar dan 535 ICU tekanan negatif, serta 3.968 tempat tidur isolasi standar dan 1.235 ruang isolasi tekanan negatif.
Baca tanpa iklan