Ringkasan Berita:
- Pendekatan radiogenomics mulai diperkenalkan di Indonesia sebagai inovasi deteksi dini penyakit berbasis radiologi dan genomik.
- Teknologi ini dinilai mampu membantu mendeteksi risiko penyakit lebih personal sebelum gejala muncul.
- Dalam kegiatan di MPR RI, hampir 200 pemeriksaan kesehatan dilakukan sebagai bagian kampanye meningkatkan budaya deteksi dini masyarakat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pendekatan radiogenomics mulai diperkenalkan sebagai inovasi baru dalam layanan deteksi dini penyakit di Indonesia.
Teknologi yang menggabungkan radiologi dan genomik ini dinilai mampu membantu tenaga medis mendeteksi risiko penyakit secara lebih personal bahkan sebelum gejala muncul.
Baca juga: Kampanyekan Pentingnya Skrining Kanker, Siti Fauziah: Deteksi Dini Bukan Hal Menakutkan
Founder Rhemedi Medical Services, dr. Rheza Maulana Syahputra, Sp.Rad, SH, MM, MARS, mengatakan radiogenomics bukan sekadar teknologi baru, melainkan pendekatan baru dalam sistem layanan kesehatan.
Menurutnya, penggabungan data klinis, laboratorium, radiologi, dan genomik memungkinkan tenaga medis tidak hanya mendiagnosis penyakit, tetapi juga memprediksi risiko serta melakukan pencegahan lebih dini.
“Pendekatan ini dapat membantu tenaga medis mendeteksi potensi penyakit sebelum gejala muncul sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan terarah,” kata Rheza dalam keterangannya dikutip, Rabu (13/5/2026).
Inisiatif pengembangan radiogenomics tersebut dideklarasikan dalam kegiatan bertajuk “Kartini Masa Kini: Budayakan Deteksi Dini” yang digelar di lingkungan MPR RI, Jakarta belum lama ini.
Kegiatan itu melibatkan Rhemedi Medical Services, Siloam Hospitals Group, Tanya DNA dari GSI Lab, serta dukungan MPR RI. Sejumlah figur publik turut hadir, termasuk Puteri Indonesia 2026 Agnes Rahajeng dan Puteri Indonesia 2025 dr. Melizza Xaviera.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari kampanye deteksi dini penyakit.
Tercatat hampir 200 pemeriksaan kesehatan dilakukan dalam sehari, terdiri dari sekitar 130 pemeriksaan payudara dan 70 pemeriksaan abdomen menggunakan ultrasonografi (USG).
Peserta tidak hanya menjalani pemeriksaan radiologi, tetapi juga mendapatkan pemeriksaan klinis payudara, edukasi kesehatan, hingga pengambilan sampel genomik.
Presiden Direktur Siloam Hospitals Group, David Utama, menilai budaya deteksi dini masih menjadi tantangan di masyarakat.
Ia mengaku pengalaman kehilangan orang tua akibat kanker menjadi alasan dirinya mendukung peningkatan kesadaran pemeriksaan kesehatan sejak dini.
“Sering kali pasien datang ketika kondisi sudah terlambat ditangani secara optimal. Karena itu, deteksi dini perlu menjadi budaya,” ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, mengatakan perempuan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kesehatan di lingkungan keluarga.
Menurutnya, semangat Hari Kartini saat ini dapat dimaknai melalui keberanian perempuan menjaga kesehatan diri dan keluarganya.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini terus meningkat, sekaligus mendorong pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi dan pencegahan penyakit di Indonesia,” kata Siti.
Baca tanpa iklan