News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kasus Korupsi di BGN

BGN Diguncang Korupsi, Pimpian Diganti, Pakar Nilai Audit Total SPPG Mendesak Demi Kelangsungan MBG

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:

  • Gonjang-ganjing terjadi di Badan Gizi Nasional (BGN) mulai dugaan korupsi yang terbongkar usai petinggi lembaga ini dirombak.
  • Pakar dan peneliti kesehatan memandang, sudah saatnya audit SPPG dilakukan secara total. 
  • Audit ini sudah seharusnya dilakukan demi perbaikan sistem pengawasan, keamanan pangan, dan tata kelola program MBG.

 

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) hingga guncangan dugaan korupsi dinilai bukan persoalan utama dalam keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dokter, pakar epidemiologi, dan peneliti Global Health Security Dr. Dicky Budiman, B.Med., MD., MScPH., Ph.D, mendesak peristiwa besar dalam tubuh BGN ini sudah seharusnya diikuti perbaikan sistem pengawasan, keamanan pangan, dan tata kelola program.

Baca juga: Dadan Hindayana Dulu Sebut MBG Tak Bakal Ada Korupsi, Kini Justru Jadi Tersangkanya

Program MBG sendiri merupakan salah satu program nasional dengan cakupan besar karena menyasar puluhan juta anak dan ibu hamil.

Besarnya skala program membuat ukuran keberhasilan tidak cukup hanya dihitung dari jumlah makanan yang dibagikan.

“Dalam skala sebesar itu keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tapi juga dari keamanan pangan yang antara lain dari seberapa banyak food waste-nya,” ujar Dicky saat dihubungi Tribunnews, Rabu (3/6/2026). 

Menurutnya, keamanan pangan harus menjadi perhatian utama karena program dijalankan pada populasi rentan dalam jumlah besar.


Reformasi Sistem

NASIB PEMBAGIAN MBG - Menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah usai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) telah berganti. (Tribunnews.com/Tribunnews.com/aisyah)

Dicky menilai pergantian pimpinan dapat dilihat sebagai bagian dari mekanisme akuntabilitas kebijakan publik.

Namun, perubahan personal saja dinilai belum cukup.

Menurutnya, evaluasi terbesar justru berada pada penguatan sistem pengawasan dan tata kelola.

“Kalau pergantian hanya berisipat personal tanpa reformasi sistem maka masalah yang sama berpotensi berulang,” katanya.

Ia menilai pimpinan baru perlu memperkuat pengawasan kualitas gizi, transparansi pelaksanaan, hingga sistem evaluasi dampak kesehatan masyarakat.

Mendesak! Segera Audit Total SPPG 

Salah satu rekomendasi utama yang disoroti adalah evaluasi terhadap jaringan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menurut Dicky, berbagai kejadian keracunan makanan dalam pelaksanaan MBG harus menjadi perhatian serius.

Kasus tersebut tidak boleh dipandang sebagai kejadian biasa karena menyangkut keselamatan anak sekolah.

Ia mendorong audit berbasis risiko terhadap seluruh SPPG.

Evaluasi itu mencakup riwayat insiden keracunan, kapasitas produksi, kepatuhan prosedur operasional, hingga hasil inspeksi sanitasi.

Selain audit, ia juga mendorong investigasi epidemiologi nasional ketika muncul kejadian keracunan.

Investigasi itu dinilai penting untuk mengetahui sumber kontaminasi, rantai distribusi pangan, hingga aspek keamanan produksi makanan.

SPPG Bermasalah Perlu Dihentikan Sementara

PENGAWASAN SATUAN PELAYANAN — Suasana aktivitas di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi berkala guna menjamin kualitas dan standarisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (TribunJateng.com/Iqbal)

Menurut Dicky, fasilitas yang bermasalah sebaiknya tidak langsung melanjutkan operasional.

Ia menyarankan penghentian sementara sampai proses evaluasi dan sertifikasi ulang selesai dilakukan.

“Kasus keracunan makanan pada program MBG ini tidak boleh dipandang enteng tidak boleh dipandang sebagai insiden biasa karena ini melibatkan populasi anak sekolah dalam jumlah besar,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengusulkan dashboard nasional keamanan pangan yang bisa diakses publik.

Dashboard tersebut diharapkan memuat jumlah kejadian keracunan, lokasi kasus, status investigasi, dan tindakan korektif yang sudah dilakukan.

Transparansi Tentukan  Kepercayaan Publik

Menurut Dicky, keterbukaan data menjadi bagian penting dalam tata kelola program nasional.

Sebab, program dengan anggaran besar membutuhkan pengawasan yang juga kuat.

Karena itu, evaluasi MBG ke depan dinilai tidak cukup hanya berbicara soal jumlah distribusi makanan.

Keamanan pangan, transparansi, dan kualitas tata kelola disebut akan menentukan keberhasilan program dalam jangka panjang.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini