Ia menjelaskan, meningkatnya obesitas dapat berjalan seiring dengan meningkatnya risiko penyakit kronis.
“Seiring meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia, risiko terjadinya fatty liver dan berbagai penyakit kronis lainnya juga semakin tinggi. Obesitas bahkan dikenal sebagai ‘mother of all chronic diseases’ karena dapat menjadi pemicu berbagai komplikasi kesehatan,” katanya.
Saat Hati Tidak Memberi Sinyal
Berbeda dengan beberapa penyakit yang menimbulkan rasa sakit atau keluhan jelas, perlemakan hati sering kali tidak langsung terasa.
Seseorang bisa tetap merasa bugar, menjalankan rutinitas, dan tidak menyadari bahwa ada perubahan yang sedang berlangsung.
Prof. Rino Alvani Gani, Sp.PD-KGEH, dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RS Cipto Mangunkusumo, menjelaskan bahwa kondisi ini memang dapat berjalan tanpa gejala pada tahap awal.
“Penyakit perlemakan hati perlu dipahami sebagai suatu spektrum. Pada tahap awal, kondisi ini dapat berupa penumpukan lemak di hati,” jelas Prof. Rino.
Namun, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele.
Jika faktor risiko tidak dikendalikan, sebagian pasien dapat mengalami perkembangan penyakit menjadi MASH atau bentuk perlemakan hati yang sudah disertai peradangan dan kerusakan sel hati.
“Namun, apabila faktor risikonya tidak dikelola dengan tepat, sebagian pasien dapat mengalami progresi menjadi MASH, yaitu bentuk yang lebih berat karena sudah melibatkan peradangan dan kerusakan sel hati,” lanjutnya.
Dalam perjalanan panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko fibrosis, sirosis, hingga kanker hati.
Berat badan bukan soal angka di timbangan
Selama ini obesitas sering dipahami hanya sebagai persoalan angka di timbangan. Padahal, yang terjadi di tubuh jauh lebih kompleks.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi, Metabolisme, dan Diabetes dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, menjelaskan bahwa obesitas berkaitan dengan proses metabolik di dalam tubuh.
“Kelebihan lemak tubuh, terutama lemak viseral, dapat memicu resistensi insulin, inflamasi, dan gangguan metabolik yang berdampak pada berbagai organ, termasuk hati, jantung, dan pembuluh darah,” ujar dr. Dicky.
Karena itu, upaya menjaga berat badan bukan hanya bertujuan mengubah tampilan fisik.
Lebih penting, menjaga agar metabolisme tubuh tetap sehat.
Baca tanpa iklan