Ringkasan Berita:
- Dokter Spesialis Bedah sebut radang usus buntu sering terlambat ditangani karena gejala awalnya mirip sakit maag.
- Kenali ciri khas usus buntu: nyeri hebat menetap di perut kanan bawah yang kerap disertai demam serta muntah.
- Guna pastikan diagnosis dan cegah komplikasi berat, dokter akan lakukan pemeriksaan fisik hingga USG atau CT Scan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang menganggap sakit perut sebagai masalah sepele. Ada yang memilih minum obat maag, mengoleskan minyak hangat, atau menunggu rasa nyeri hilang dengan sendirinya.
Padahal dalam beberapa kasus, sakit perut yang awalnya dianggap maag ternyata merupakan gejala radang usus buntu atau appendicitis.
Dokter Spesialis Bedah RSUD Bung Karno dr. Agung Widhinugroho, Sp.B menjelaskan bahwa salah satu alasan radang usus buntu sering terlambat ditangani adalah karena gejalanya kerap menyerupai gangguan lambung.
Menurut dr Agung, banyak pasien datang ke rumah sakit setelah sebelumnya berobat karena mengira mengalami sakit maag.
Padahal nyeri yang dirasakan merupakan bagian dari proses radang usus buntu.
Baca juga: Benarkah Sering Santap Makanan Pedas Picu Usus Buntu? Dokter Beri Penjelasan
"Pasien kita yang datang ke rumah sakit itu, kalau kita tanya itu sebelumnya mengeluhkan nyeri lambung sudah diobati. Tapi ternyata nggak sembuh," ujarnya pada Healthy Talk di kanal YouTube Tribun Health, Rabu (17/6/2026).
Kondisi ini terjadi karena pada tahap awal, radang usus buntu memang dapat menimbulkan nyeri di area lambung.
Akibatnya, tidak sedikit orang yang terlambat menyadari kondisi sebenarnya.
Gejala yang Harus Diwaspadai
Meski gejala awal bisa menyerupai maag, terdapat ciri khas yang perlu diperhatikan masyarakat. Menurut dr Agung, lokasi nyeri menjadi petunjuk penting.
Usus buntu berada di bagian kanan bawah perut sehingga rasa sakit biasanya akan mengarah ke area tersebut.
"Kalau ada nyeri hebat di posisi kanan bawah, kita kemungkinan besar curiganya ke radang usus buntu," jelasnya.
Selain nyeri perut kanan bawah, penderita juga bisa mengalami demam, muntah, hingga diare. Sakit perut hebat, terutama yang menetap di sisi kanan bawah, sebaiknya tidak dianggap sepele.
Masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar penyebab nyeri dapat diketahui lebih cepat.
Sebab semakin lama dibiarkan, risiko komplikasi juga semakin besar.
Pemeriksaan Tidak Hanya Mengandalkan Keluhan
Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan. Mulai dari wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah hingga pemeriksaan penunjang seperti USG atau CT Scan.
USG menjadi salah satu pilihan yang banyak digunakan karena lebih mudah dijangkau, lebih murah, dan tersedia di banyak fasilitas kesehatan.
Pemeriksaan ini juga membantu dokter membedakan radang usus buntu dengan penyakit lain yang memiliki gejala serupa.
Karena gejalanya sering mirip maag atau gangguan pencernaan biasa, banyak orang baru datang ke rumah sakit ketika nyeri sudah semakin berat.
Padahal mengenali tanda khas sejak awal dapat membantu mencegah kondisi menjadi lebih serius.
Jika sakit perut berpindah ke kanan bawah, disertai demam atau muntah, jangan hanya mengandalkan dugaan sendiri.
Memeriksakan diri lebih cepat dapat menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
Baca tanpa iklan