News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pemujaan Dewi Durga di Pura Agung Batam

Penulis: Iswidodo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNEWS.COM, BATAM- Dari kejauhan sudah tampak sebuah bangunan tinggi menjulang di atas bukit ketika melintas jalan Nagoya arah Sekupang di Baloi Batam. Itulah Pura Agung Amertha Buana yang model bangunannya mirip candi Prambanan di Klaten Jawa Tengah.

Pura ini merupakan tempat ibadah umat Hindu terbesar di Batam. Sama halnya dengan  kedudukan Masjid Raya Batam, Vihara Duta Maitreya di Seipanas maupun patung Dewi  Kwan Im di Sekupang.

Hanya sekitar 10 menit ditempuh dari Jodoh Nagoya atau 15 menit dari pelabuhan fery Batam  Centre. Bila pengunjung melalui bandara Hang Nadim bisa 30 menit menuju tempat ini. Jangan khawatir, sudah banyak hotel berbintang di Batam yang tak jauh dari lokasi ini hanya sekitar 5 menit perjalanan.

Tiga konsep ideal pura tergambar di tempat ini berupa Pratamaning Mandala, Madya  Mandala dan Utama Mandala. Pratamaning Mandala sebagai tempat kegiatan orientasi  ekonomi. Maka tak heran bila di lokasi ini terdapat rumah makan Kak Dadut yang  juga restoran untuk umum. Semua orang boleh mengunjunginya, tersedia masakan khas Bali dan nusantara.

Tahapan kedua berupa madyaning Mandala yang berhubungan dengan sosial budaya  Hindu. Di posisi ini pengunjung pun diijinkan masuk untuk menikmati indahnya Pura  Agung Amertha Buana. Di Utama Mandala khusus tempat sembahyang atau areal holy.  Tempat ini special bagi umat yang hendak mensucikan diri dari pikiran jahat dan  penyakit hati.

Peletakan batu pertama pembangunan tempat ibadah umat Hindu ini pada Juni 2000  kemudian diresmikan pemakaiannya Agustus 2003. Menteri Agama Said Agil Munawar  meresmikan Pura Agung Amertha Buana pada Juni 2004.

Namun Ngenteg Linggihnya (Abhiseka) baru dilaksanakan pada 2 November 2009  kemarin. Secara harfiah, Ngenteg Linggih adalah upakara pensucian Pura dengan segala kelengkapan melalui pecaruan dan sekaligus men-stanakan (me-linggihkan) Ida  Sang Hyang Widhi Wasa di Pura. Upakara ini merupakan rangkaian kegiatan setelah  pembangunan Pura yang kemudian dipelaspas dan dijaga kesakralannya.

Ada beberapa even penting di pura ini yang ramai dikunjungi umat Hindu. Misalnya  sehari sebelum dan sesudah Nyepi, Galungan, Kuningan, Saraswati, Syiwa Ratri dan  Pagar Wesi. Selain itu, tiap Minggu juga berkumpul anak anak bersama keluarga  untuk sembahyang.

Walau hanya sekitar 3.000 umat Hindu di Batam tapi pura ini ramai dikunjungi  wisatawan dalam dan luar negeri. Sedangkan warga negara asing beragama Hindu di  Batam mencapai 400an kepala keluarga. Karena di pura ini terdapat Tample Sri Lalitha Tiru Pura Sundhari atau Pura  Pemujaan Dewi Durga.

Dulu ketika petama kali membangun pura ini, secara tak  sengaja dan diluar keinginannya tiba-tiba proposal dicantumkan sebuah patung dewa. Tanpa disengaja ternyata itulah Dewi Durga. Bermula dari ketidaksengajaan adanya Dewi Durga itulah bisa mengundang kehadiran umat Hindu di  India, Malaysia dan Singapura rajin memujanya dengan datang ke Pura Agung Amertha Buana.

Minimal rombongan mereka datang mengunjungi pura ini sekitar enam bus tiap  Sabtu atau Minggu. Selain pemujaan di pura ini, rombongan umat Hindu luar negeri  juga mengadakan bakti sosial untuk seluruh umat di Batam.

Bagi pengunjung non Hindu juga diperkenankan masuk ke Madya Mandala asal  mengenakan pakaian sopan dan menjaga tata krama pura. Begitu memasuki Kori Agung  atau gerbang utama yang tinggi menjulang akan terasa kesakralannya.

Fungsi pura, selain sebagai tempat persembahyangan juga untuk dharma wacana,  dharma tula (diskusi), dharma gita (menyanyikan Weda), dharma soddhara (sedekah),  dharma yatra (mengunjungi) dan dharma shanti saling silaturahmi. Sejauh ini,  ratusan umat Hindu dari Singapura dan Malaysia mengunjungi pura ini untuk  sembahyang kemudian berbelanja di Batam.

Ketika berada di pura ini pun sudah bisa menikmati indahnya hutan, pantai dan  padang golf yang tampak di depan mata. Maklum, pura ini berada di Giri Mandala  dalam ketinggian bukit sekitar 50 meter dari jalan aspal. Tampak juga kilauan air  Dam Sei Ladi yang bening menyejukkan mata.

Dalam usianya menginjak 10 tahun, Pura Agung Amertha Buana semakin cantik dengan berbagai kelengkapan sarana ibadah dan tempat santai bagi wisatawan. Arus  kunjungan wisatawan ke pura ini terus meningkat seiring dengan kedatangan umat  Hindu dari kota lain di Indonesia dan luar negeri untuk Tirta Yatra (air kehidupan). Bahkan di Pura Agung Amertha Buana terdapat Pura Pemujaan Dewi Durga satu-satunya di Indonesia sehingga menambah daya tarik wisatawan religius untuk mengunjunginya.

Dalam pura ini terdapat beberapa bagian bangunan yaitu Padma Sana merupakan  terbesar. Di tempat inilah pemujaan Sang Hyang Tunggal. Selain itu terdapat  Pelinggih Panglurah, Balai Pepelih (transit) yang juga tempat penyimpanan sarana
yaitu Pratima.

Ada juga Gedong Batu sebagai tempat untuk menyimpan sarana upacara. Balai Pawedan  sebagai tempat pemimpin upacara dan balai KulKul untuk memanggil umat. Yang paling menonjol yaitu Kori Agung sebagai gerbang utama masuk Pura Agung Amertha Buana.

Ada waktu-waktu tertentu dimana semua umat adalah para wanita yang melakukan sembahyang. Mereka melaksanakan Walaka Puja yaitu istri mendoakan suaminya agar sehat dan sukses. (widodo)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini