Allāhumma asqinā ghaithan mughīthan, marī’an marī‘an, nāfi‘an ghaira dārrin, ‘ājilan ghaira ājil.
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menyelamatkan, menyenangkan, menyuburkan, membawa manfaat dan tidak membahayakan, segerakanlah turunnya dan jangan ditunda.” (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah)
Doa Mohon Hujan yang Tidak Mendatangkan Bencana
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Allāhumma hawālainā wa lā ‘alainā, allāhumma ‘alal-ākāmi wadh-dhirābi wa buṭūnil-awdiyati wa manābitisy-syajar.
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan ini di sekitar kami, jangan langsung menimpa kami. Ya Allah, turunkanlah di bukit-bukit, di gunung-gunung, di lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”
Ada pun doa tentang hujan yang tidak mendatangkan bencana itu tercantum dalam sebuah hadis, dijelaskan dalam skripsi berjudul Hadis Air Hujan antara Rahmat dan Musibah (Kajian Pemahaman Hadis) oleh Teddy Isna Pratama, mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2023).
Dalam sebuah riwayat menyebutkan Rasulullah pernah berdoa kepada Allah agar menurunkan hujan, namun kemudian berdoa agar hujan tersebut tidak mendatangkan bencana.
“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqātil berkata, telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah bin Al Mubārak berkata, telah mengabarkan kepada kami Al Auza'i berkata, telah menceritakan kepada kami Isḥāq bin 'Abdullah bin Abū Ṭalḥah al Anṣarī berkata, telah menceritakan kepadaku Anas bin Mālik berkata:
"Di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam manusia pernah terkena musibah paceklik kekeringan. Pada hari Jum'at ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang memberikan khutbah, tiba-tiba seorang Arab badui berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan telah terjadi kelaparan, maka berdo'alah kepada Allah agar menurunkan hujan untuk kita!" Anas bin Mālik berkata, "Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berdoa dengan mengangkat kedua telapak tangannya. Dan saat itu tidak sedikitpun ada awan di langit."
Anas bin Mālik melanjutkan perkataannya, "Maka awan seperti gunung bergerak. Beliau belum lagi turun dari mimbarnya hingga aku melihat air hujan membasahi jenggotnya. Maka pada hari itu kami mendapatkan hujan hingga esok harinya dan lusa, hingga hari Jum'at berikutnya. Pada hari Jum'at berikut itulah orang Arab badui tersebut, atau orang yang lain berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, banyak bangunan yang roboh, harta benda tenggelam dan hanyut, maka berdo'alah kepada Allah untuk kami!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berdoa dengan mengangkat kedua telapak tangannya: 'ALLAHUMMA HAWAALAINAA WA LAA 'ALAINAA (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeling kami saja dan jangan sampai menimbulkan kerusakan kepada kami) '. Belum lagi beliau memberikan isyarat dengan tangannya ke langit, awan tersebut telah hilang. Saat itu kota Madinah menjadi seperti danau dan aliran-aliran air, bahkan tidak mendapatkan sinar matahari selama satu bulan." Anas bin Mālik berkata, "Tidak ada satupun orang yang datang dari segala pelosok kota kecuali akan menceritakan tentang terjadinya hujan yang lebat tersebut.” (HR. Bukhari, no. 1033)
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan