Menurut Rahne, hidup yang seimbang bukan tentang menghindari dunia, tetapi menghadirinya dengan kesadaran penuh.
“Badan kita juga betul-betul, ini adalah jalannya aku. Tempuh setiap harinya untuk aku membuka diri dengan legit, posibilitas, networking,” ujarnya. “And it should be grateful rather than selamatan yang disiksa.”
Ia mengingatkan bahwa tubuh adalah rumah bagi jiwa, bukan alat yang bisa dipaksa terus bekerja.
Dengan menghormati tubuh lewat nafas, jeda, dan rasa syukur manusia bisa kembali menemukan makna dalam rutinitasnya.
Rahne menutup dengan pesan sederhana namun bermakna. Setiap orang berhak merasa tenang di tengah kesibukan.
Baca tanpa iklan