TRIBUNNEWS.COM - Seiring dengan berkembangnya teknologi hunian pintar, inovasi pada sistem keamanan rumah menjadi hal yang penting, termasuk smart lock.
Smart lock adalah teknologi kunci pintar yang memungkinkan penghuni melacak membuka tutup pintu rumah hanya dengan memasukkan kode atau finger print yang sudah terdata.
Marketing Director Dekkson Group, Lucky Nugroho, membagikan pengalaman Dekkson dalam mengembangkan smart lock dan architectural hardware lewat perbincangan bersama Tribunnews di program Tribun Corner.
Perkembangan Smart Lock dan Tantangan Safety-Security
Lucky yang telah lama berkecimpung di dunia architectural hardware memulai kariernya dari bidang fasad bangunan sejak awal 1990-an dan konsisten menekuni sistem pintu, jendela, hingga kunci untuk berbagai kebutuhan, mulai dari hunian, gedung publik, hingga fasilitas khusus seperti pintu tahan peluru.
Menurut Lucky, sistem penguncian modern tidak lagi sekadar soal mengunci, tetapi tentang bagaimana teknologi mempermudah hidup penghuni tanpa mengorbankan keselamatan.
Ia menyebut, perkembangan teknologi smartlock sudah dimulai sejak lama di Eropa. Namun, baru beberapa tahun terakhir dapat diadopsi lebih luas karena biaya yang makin terjangkau. Saat ini, generasi muda bahkan mulai meninggalkan kunci konvensional dan beralih ke sistem berbasis ponsel.
“Sekarang orang membuka pintu bukan lagi dengan kunci konvensional, tetapi melalui ponsel. Bahkan sebelum sampai di depan pintu, akses sudah bisa dibuka,” ujar Lucky.
Dengan pengalaman lebih dari 35 tahun di bidang kunci dan pintu, Lucky menyebut bahwa Dekkson merespons tren tersebut dengan menghadirkan smart lock yang menggabungkan berbagai metode akses, seperti fingerprint, password, kartu, hingga integrasi ponsel. Smart lock Dekkson juga dilengkapi fitur keamanan tambahan, termasuk rekaman aktivitas pintu, kamera, dan notifikasi real-time ke handphone pengguna.
Lucky menambahkan, dalam sistem penguncian modern terdapat dua aspek penting yang harus dipahami, yakni safety dan security. Keduanya tidak selalu berjalan searah.
“Kalau security tinggi, sering kali safety jadi rendah. Kalau safety tinggi, security bisa menurun. Tantangannya adalah mencari titik optimalnya,” ucapnya.
Ia mencontohkan penggunaan panic lock untuk ruangan darurat yang mengutamakan keselamatan saat evakuasi, dibandingkan kunci dengan sistem pengamanan berlapis yang berisiko memperlambat akses keluar.
Baca juga: Garap Bisnis Hunian Pintar, Dekkson Dirikan Anak Perusahaan Baru
Dekkson Knowledge Hall sebagai Pusat Edukasi Architectural Hardware
Tak hanya fokus pada produk, Dekkson juga aktif membangun ekosistem edukasi melalui Dekkson Knowledge Hall (DKH). Fasilitas seluas 800 meter persegi di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, ini menjadi pusat pembelajaran door and window hardware pertama di Indonesia.
DKH dilengkapi laboratorium pengujian, showroom, ruang diskusi, serta area aplikasi produk. Di tempat ini, Dekkson menguji produk secara langsung, termasuk pengujian automatic door hingga jutaan siklus buka tutup untuk memastikan daya tahan dan keamanan.
“Kami tidak ingin hanya bilang produk ini kuat, tapi kami mau tahu juga datanya,” katanya.
Melalui program Dekkson Knowledge, perusahaan juga rutin menggelar seminar edukasi untuk arsitek, kontraktor, mahasiswa, hingga praktisi konstruksi. Materi yang dibahas mencakup teknologi pintu, sistem penguncian, hingga fire safety. Beberapa program bahkan bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan memberikan nilai kompetensi bagi peserta.
Baca tanpa iklan