TRIBUNNEWS.COM - Khutbah Jumat, pada 6 Februari 2026, berjudul Ajaran Nabi dalam Konversi Alam.
Khutbah Jumat merupakan ceramah agama yang disampaikan oleh seorang khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat.
Pada kesempatan khutbah Jumat yang penuh berkah ini, khatib mengangkat tema penting yakni tentang mengupayakan pemeliharaan keseimbangan yang Allah tetapkan di alam ini.
Allah telah menempatkan alam semesta ini secara seimbang, yang dengan keseimbangan tersebut seluruh makhluk, termasuk manusia, dapat hidup secara baik dan makmur.
Untuk itu, dalam khutbah berikut menekankan agar manusia dan khalifah di muka bumi ini agar tidak merusak keseimbangan tersebut.
Melansir laman Suara Muhammadiyah, berikut teks khutbah Jumat, 6 Februari 2026 yang ditulis oleh Qaem Aulassyahied, Anggota MTT PP Muhammadiyah dan Dosen Ilmu Hadis UAD dan PUTM:
Baca juga: Hukum Meninggalkan Sholat Jumat Tiga Kali, Apakah Dianggap Murtad?
Ajaran Nabi dalam Konversi Alam
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَه إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ ، مَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ رَشَدَ ، وَمَنْ يَعْصِهِمَا فَقَدْ غَوَى. نَسْأَلُ اللَّهَ رَبَّنَا أَنْ يَجْعَلَنَا مِمَّنْ يُطِيعُهُ وَيُطِيعُ رَسُولَهُ وَيَتَّبِعُ رِضْوَانَهُ وَيَجْتَنِبُ سَخَطَهُ فَإِنَّمَا نَحْنُ بِهِ وَلَهُ, }يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا (۷٠) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا }
Jama’ah Jumat raḥimakumullāh,
Allah menempatkan alam semesta ini secara seimbang, yang dengan keseimbangan tersebut seluruh makhluk, termasuk manusia, dapat hidup secara baik dan makmur. Dalam al-Quran, surah al-Hijr ayat 19 Allah swt berfirman:
وَالْاَرْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَلْقَيْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُوْنٍ
"Bumi telah kami hamparkan dan memancangkan padanya gunung-gunung, dan menumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukurannya."
Dengan keseimbangan ini, maka segala yang ada di alam telah terukur, presisi, terdistribusi secara adil dan proporsonal dan akan selalu memberi manfaat serta mencukupi kebutuhan manusia. Karena itu juga, kepada manusia, khalifah di muka bumi ini, Allah memberi ultimatum agar tidak merusak keseimbangan tersebut.
Jamaah sekalian yang berbahagia,
Sebagai bukti dari keseimbangan alam salah satunya adalah Allah menciptakan energi di muka bumi. Energi, adalah sumber kekuatan yang Allah ciptakan yang dengannya seluruh makhluk termasuk manusia dapat hidup dan berkehidupan. Dengan demikian, energi menjadi satu unsur penting yang menopang kehidupan di alam semesta ini.
Terkait energi ini, paling tidak ada enam macam energi yang termuat dalam firman Allah: 1) matahari (syams), 2) bumi (ardh), 3) lautan (bahr), 4) angin (rih), 5) air (ma`), dan 6) tumbuhan (nabat/syajar).
Dalam konteks zaman sekarang, keseluruhan narasi energi di dalam al-Quran mengindikasikan dua klasifikasi energi. Pertama energi yang tidak terbarukan, yaitu sumber energi yang berasal dari bahan bakar fosil seperti batu-bara, minyak bumi dan gas alam. Jenis energi ini disebut tidak terbarukan karena ketersediaannya terbatas dan terus berkurang serta pada akhirnya akan habis.
Kedua, energi terbarukan, yaitu energi yang berasal dari sumber yang secara alami dapat diperbaharui atau dapat dipulihkan dalam waktu yang relative singkat. Sifat keterbaruan ini melekat karena sejatinya ketika kita memanfaatkan energinya, kita tidak mengurangi sumber energi tersebut. Termasuk di dalam jenis ini adalah sinar matahari yang menghasilkan energi surya, energi angin, dan energi air yang sering kita sebut sebagai hidro.
Baca tanpa iklan