News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Bacaan Doa

Niat Qadha Puasa Ramadhan, Bisa Dimulai di Bulan Syawal

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Tiara Shelavie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

NIAT PUASA QADHA - Gambar dibuat di Be Funky dan Paint, Senin (23/3/2026). Artikel ini memuat doa niat qadha puasa Ramadhan yang bisa dimulai di bulan Syawal hingga Syaban, sebelum bulan Ramadhan selanjutnya.

TRIBUNNEWS.COM - Muslim yang memiliki utang puasa Ramadhan wajib menggantinya di luar bulan Ramadhan.

Mengganti utang puasa Ramadhan atau qadha puasa Ramadhan hukumnya wajib, baik dilakukan dengan berpuasa bagi yang mampu maupun dengan membayar fidyah bagi yang tidak mampu membayarnya dengan berpuasa.

Qadha puasa Ramadhan dapat dilakukan mulai tanggal 2 Syawal tahun Hijriah hingga bulan Syaban, sebelum Ramadhan berikutnya.

Dari Aisyah r.a. berkata: “Aku memiliki utang puasa Ramadhan, dan aku tidak mampu menggantinya kecuali di bulan Sya‘ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kementerian Agama menjelaskan qadha boleh dilakukan berurutan atau terpisah, yang terpenting jumlah harinya sama dengan jumlah ketika tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

Selain itu, niat harus dilakukan pada malam hari karena ini termasuk puasa wajib.

Dikutip dari laman Kementerian Agama, berikut ini bacaan niat puasa qadha Ramadhan.

Niat Puasa Qadha Ramadhan

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’in fardho syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: "Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT."

Baca juga: Doa Puasa Syawal, Amalan Sunnah Muakkad yang Dicontohkan Rasulullah

Dalil Tentang Qadha Puasa Ramadhan

Dalam ajaran Islam, anjuran untuk segera mengganti utang puasa Ramadan memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an maupun hadis.

“Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Para ulama memahami bahwa frasa tersebut mengandung dorongan untuk tidak menunda qadha puasa hingga melewati Ramadan berikutnya tanpa alasan yang dibenarkan.

Mengganti utang puasa termasuk bagian dari amal kebaikan yang seharusnya dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanpa penundaan, selama tidak ada uzur yang menghalangi.

Dalam sebuah hadis, Aisyah r.a. menyampaikan bahwa dirinya memiliki utang puasa Ramadan dan baru dapat menggantinya pada bulan Sya’ban.

Dari Aisyah r.a. berkata: “Aku memiliki utang puasa Ramadhan, dan aku tidak mampu menggantinya kecuali di bulan Sya‘ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini