Selain itu, ada
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَكَ وَيُكَافِئُ مَزِيدَكَ، أَحْمَدُكَ بِجَمِيعِ مَحَامِدِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، عَلَى جَمِيعِ نِعَمِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَّ أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَأَعِذْنِي مِنْ كُلِّ سُوءٍ، وَقَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي وَبَارِكْ لِي فِيهِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ أَكْرَمِ وَفْدِكَ عَلَيْكَ، وَأَلْزِمْنِي سَبِيلَ الِاسْتِقَامَةِ حَتَّى أَلْقَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Allahumma lakal hamdu hamday yuwaafi ni’amika wa yukaafiu maziidak, ahmaduka bi jamii-I mahaamidika maa ‘alimtu minhaa wa maa lam a’lam ‘alaa jamii-I ni’matika maa ‘alimtu minhaa wa maa lam a’lam wa ‘alaa kulli haal, Allahumma shalli wa sallim ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, Allahumma a’idznii minasy syaithaanir rajiim wa a’idznii min kulli suu’, wa qanni’nii bi maa razaqtanii wa baarik lii fiih, Allahummaj ‘alnii min akrami wafdika ‘alaika wa aljimnii sabiilal istiqaamati hatta alqaaka yaarabbal ‘aalamiin.
Artinya: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu dengan pujian yang menyampaikan pada kenikmatanan-Mu d menepati tambahan kenikmatan itu. Aku memuji-Mu dengan semua pujian baik yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui maupuyang tidak aku ketahui., atas segala keadaan. Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam atas Nabi Muhammad saw. dan keluarga Nabi Muhammad saw. Ya Allah, aku lindungilah aku dari segala keburukan dan jadikanlah aku qana’ah menirama apa yang engkau berikan dan berkahilah di dalamnya untuk ku. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang mulia yang Engkau utus, dan tetapkanlah istikamah sampai aku bertemu kepada-Mu, Wahai Tuhan pemilik seluruh alam."
Hikmah Berdoa di Multazam
Hikmah berdoa di Multazam bukan hanya terletak pada keyakinan bahwa doa di tempat itu mustajab, tetapi juga pada kedekatan batin seorang hamba dengan Allah SWT.
Di tempat yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah itu, seorang muslim diajak untuk merendahkan diri sepenuhnya, mengakui kelemahan, serta menggantungkan seluruh harapan hanya kepada-Nya.
Rasulullah SAW dan para sahabat pun memberi teladan dengan berdoa penuh kekhusyukan di sana, hingga menempelkan dada dan tangan ke Ka’bah sebagai bentuk ketundukan dan penghambaan.
Multazam menjadi pengingat bahwa di tengah segala dosa, kesalahan, dan kesulitan hidup, selalu ada ruang untuk memohon ampunan, meminta pertolongan, serta berharap ridha Allah.
Karena itu, banyak jamaah merasakan ketenangan hati, haru, bahkan air mata yang sulit dibendung ketika berdoa di tempat tersebut, seperti dijelaskan Prof. DR. KH Nasaruddin Umar, Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dalam laman UIN Jakarta.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan