TRIBUNNEWS.COM - Hajar Aswad merupakan batu mulia yang terletak di salah satu sudut Kabah dan menjadi titik awal serta akhir tawaf di Masjidil Haram.
Dalam sejarah Islam, Hajar Aswad diyakini berasal dari surga dan diturunkan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS ketika membangun Kabah.
Rasulullah SAW juga mencontohkan untuk menyentuh, mencium, atau memberi isyarat ke arah Hajar Aswad saat tawaf sebagai bentuk mengikuti sunnah beliau.
“Sesungguhnya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Hajar Aswad: ‘Demi Allah, sungguh aku mengetahui bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi SAW menyentuhmu, niscaya aku tidak akan menyentuhmu.” Lalu beliau pun menyentuhnya. Kemudian beliau berkata: ‘Apa urusan kita dengan ramal (berlari-lari kecil saat thawaf)? Dahulu kami melakukannya untuk memperlihatkan kekuatan kepada kaum musyrikin, padahal sekarang Allah telah membinasakan mereka.” Lalu beliau berkata lagi: ‘Sesuatu yang pernah dilakukan Nabi SAW, maka kami tidak suka meninggalkannya.’” (HR Bukhari)
Dalam hadis lain dijelaskan bahwa Hajar Aswad akan bersaksi kepada Allah SWT tentang orang yang menyentuhnya dengan benar.
Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, Allah akan membangkitkan Hajar Aswad pada Hari Kiamat. Batu itu memiliki dua mata yang dapat melihat dan lisan yang dapat berbicara, lalu ia akan bersaksi bagi orang yang menyentuhnya dengan benar.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Mencium Hajar Aswad bukan berarti mengagungkan batu tersebut sebagai pemberi manfaat atau mudarat, melainkan bentuk ketaatan dan ittiba’ kepada Rasulullah SAW.
Karena itu, umat Islam dianjurkan membaca doa dan bertakbir ketika berada di depan Hajar Aswad, baik saat dapat menciumnya secara langsung maupun ketika hanya mampu memberi isyarat dari kejauhan.
Sunah ini lebih dianjurkan bagi jemaah haji/umrah laki-laki, dan jika tidak bisa mencium atau menyentuh Hajar Aswad karena padat, cukup menghadap ke arahnya sambil mengangkat tangan dan membaca takbir.
Sementara jemaah haji/umrah perempuan cukup mengangkat tangan dan membaca takbir.
Baca juga: Doa di Multazam, Tempat Mustajab Berdoa di Antara Hajar Aswad dan Pintu Kabah
Para ulama menegaskan bahwa perempuan tidak dianjurkan memaksakan diri untuk mencium atau menyentuh Hajar Aswad jika menimbulkan desakan, campur baur dengan laki-laki, atau berpotensi menimbulkan fitnah dan mudarat.
Mengutip laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), berikut doa ketika mencium dan menyentuh Hajar Aswad.
Doa Mencium Hajar Aswad
بِاسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ
بِاسْمِ اللَّهِ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ إيمَانًا بِاَللَّهِ وَتَصْدِيقًا بِمَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Bismillāhi wa Allāhu Akbar.
Allāhumma īmānan bika wa taṣdīqan bikitābika wa wafā’an bi‘ahdika wattibā‘an lisunnati nabiyyika Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wasallam.
Artinya: “Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar. Ya Allah, aku melakukan ini karena iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, memenuhi janji kepada-Mu, dan mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad SAW.”
Baca tanpa iklan