News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Mendengar dengan Hati, Menemukan Keajaiban Komunikasi Anak Autis Lewat 'Naya dan Talkernya'

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BUKU - Suasana peluncuran buku “Naya dan Talkernya” dan Gerakan “Setiap Anak Punya Suara” di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, Sabtu (10/5/2026). Kegiatan ini mengajak masyarakat lebih memahami anak autis non-verbal dan pentingnya ruang inklusif bagi mereka.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Suasana berbeda terasa di Gramedia Matraman, Jakarta, Sabtu (10/5/2026). Bukan sekadar peluncuran buku biasa, ruang toko buku itu berubah menjadi tempat berbagi cerita, empati, sekaligus ruang aman bagi anak autis non-verbal dan keluarganya.

Lewat peluncuran buku “Naya dan Talkernya”, publik diajak memahami bahwa tidak semua anak berkomunikasi lewat kata-kata yang diucapkan secara langsung.

Acara tersebut sekaligus memperkenalkan Gerakan “Setiap Anak Punya Suara”, sebuah inisiatif yang mendorong masyarakat lebih memahami anak autis non-verbal dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.

Acara dihadiri orang tua, komunitas, terapis, hingga pengunjung Gramedia yang penasaran dengan kisah Naya.

Baca juga: Kajian Ilmiah WHO: Vaksinasi Anak Tidak Menyebabkan Autisme

Talkshow, sesi berbagi pengalaman, meet and greet, hingga diskusi santai membuat suasana terasa hangat dan personal.

Orang antusias mendengarkan pengalaman tentang bagaimana anak autis non-verbal ternyata tetap memiliki cara untuk menyampaikan kebutuhan dan emosinya.

Buku “Naya dan Talkernya” mengangkat kisah seorang anak autis non-verbal yang mulai menemukan cara berkomunikasi melalui talker, alat bantu komunikasi yang menjadi jembatan bagi anak untuk mengekspresikan dirinya.

Cerita dikemas dengan ilustrasi yang lembut dan emosional sehingga mudah dipahami berbagai usia, termasuk anak-anak.

Pengarang buku, Dewi Mareta, mengaku awalnya hanya ingin membagikan pengalaman pribadinya sebagai ibu dari Naya.

Ia melihat perubahan besar setelah anaknya mulai menggunakan talker.

"Saya sangat bersyukur peluncuran buku “Naya dan Talkernya” dapat terlaksana. Berawal dari keinginan sederhana untuk berbagi pengalaman melihat perkembangan anak kami setelah menggunakan talker. Terbukanya komunikasi ini merupakan langkah yang sangat berarti dan diharapkan dapat membantu perkembangan positif lainnya,” ungkap Dewi Mareta di Jakarta, Selasa (12/5/2026). 

Bagi banyak orang tua yang hadir, kisah tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tidak sedikit yang mengaku baru memahami bahwa anak autis non-verbal bukan berarti tidak bisa berkomunikasi.

Penggagas Gerakan “Setiap Anak Punya Suara”, Sofia Karina, mengatakan masyarakat perlu melihat komunikasi dari sudut pandang yang lebih luas.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini