TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Segelas jamu hangat sering menjadi pilihan banyak keluarga Indonesia saat badan terasa tidak enak, pegal-pegal, atau sekadar ingin menjaga kesehatan.
Racikan kunyit, temulawak, jahe, kencur, hingga berbagai rempah lain dipercaya telah menemani masyarakat Indonesia selama turun-temurun.
Karena berasal dari bahan alami, tidak sedikit orang yang menganggap jamu pasti aman dikonsumsi.
Semakin alami, dianggap semakin tidak berisiko.
Baca juga: Dipuji Awet Muda, Yuni Shara Mengaku Hanya Rutin Minum Jamu Hingga Baca Al Fatihah
Padahal menurut Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr. dr. Inggrid Tania, M.Si, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Di balik popularitas jamu sebagai warisan leluhur, masyarakat tetap perlu memahami cara memilih, meracik, hingga mengonsumsinya dengan benar.
Tidak Semua yang Alami Otomatis Aman
Bagi sebagian masyarakat, kata "alami" sering kali identik dengan aman.
Padahal menurut Inggrid, keamanan suatu bahan tidak hanya ditentukan oleh asalnya dari alam atau bukan.
Cara pengolahan, pemilihan bahan, kebersihan proses produksi hingga dosis konsumsi turut menentukan keamanan sebuah ramuan herbal.
"Jadi bukan berarti segala apa yang alami itu pasti aman," kata Inggrid pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Selasa (16/6/2026).
Ia menjelaskan, jamu memang memiliki riwayat penggunaan panjang dalam masyarakat Indonesia.
Ramuan yang diwariskan dari generasi ke generasi umumnya telah melewati pengalaman penggunaan selama puluhan hingga ratusan tahun.
Namun keamanan tersebut tetap bergantung pada cara penggunaannya.
Jika bahan yang digunakan salah, cara meramu tidak tepat, atau dosisnya berlebihan, risiko tetap bisa muncul.
Baca tanpa iklan