Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Aji
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyaknya keluhan warga perihal beban biaya yang tak sesuai dengan pemakaian air bersih di Jakarta mendapat perhatian serius PT Aetra Air Jakarta. Wakil Gubernur DKI Jakata Basuki T Purnama bahkan pernah mengalami kerugian tersebut.
Sebagai salah satu pengelola air bersih di Jakarta, dengan total pelanggan sebanyak 392.634, pada tahun 2012 lalu PT Aetra menyalurkan sebanyak 150 juta meter kubik. Dan dari jumlah tersebut, mereka mengaku masih mengalami kebocoran sebanyak 45.49 persen.
"Lebih baik atasi bocor, daripada membuat instalasi baru yang menelan biaya cukup besar. Yang penting beresi dulu kebocoran sebanyak 40 persen," katanya di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Buaran, di Jl Raya Kalimalang No 89, Jakarta Timur, yang di kelola oleh PT Aetra, Jumat (14/6/2013).
Ahok pun bercerita dirinya pernah punya pengalaman tersendiri saat masih menjadi anggota DPR RI. Karena harus pulang-pergi Jakarta dan Bangka, seringkali rumahnya di bilangan Pluit tidak ditempati. Akan tetapi selama itu pula, dirinya harus membayar tagihan sebanyak Rp 1,5 juta/bulan.
"Saya sempat, bertanya koq bisa sebesar itu, tapi karena tidak mau ribut ya saya tidak permasalahkan. Ternyata memang itu meteran sudah 15 tahun tidak di ganti, jadi ukurannya pun mungkin sudah tidak akurat lagi," katanya.
Terhadap para pejabat PT Aetra, Ahok pun sempat berkelakar, agar dengan sudah tersedianya fasilitas Workshop Meter, bukan hanya kebocoran yang diatasi.
"Tapi akurasi meteran kan juga bisa di pastikan. Jadi pelanggan juga jangan sampai membayar lebih akibat tidak akuratnya alat pengukur," kata Ahok.
Selain melakukan melakukan kunjungan kerja, Ahok juga meresmikan Workshop Meter PT Aetra Air Jakarta. Yakni instalasi yang bertujuan untuk memastikan akurasi meter air atau alat pengukur pelanggan. Menurut Ahok, dengan dibangun instalasi tersebut merupakan langkah antisipati yang baik dalam upaya mengatasi kebocoran yang selama ini terjadi.
Baca tanpa iklan