News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ahok Gubernur DKI

Meski Direvisi, Ahok Pastikan UMP Tidak Bisa Sampai Rp 3 Juta

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Wakil Kepala Polda Metro Jaya Brigadir Jenderal Nandang Jumantara (kanan) usai meluncurkan aplikasi smart city di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Senin(15/12/2014). Warga Jakarta dapat mengakses smartcity.jakarta.go.id. yang terintegrasi dengan aplikasi sosial media pengaduan warga Ibu Kota, seperti e-mail dki@jakarta.go.id, Twitter @jakartagoid, Facebook jakarta.go.id, balai warga di website www.jakarta.go.id, petajakarta.org, Lapor! 1708, dan Google Waze. WARTA KOTA/HENRY LOPULALAN

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama dewan pengupahan kembali membahas perubahan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI akibat dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menimbulkan inflasi.

Adanya perubahan UMP tersebut yang sebelumnya sudah diputus RP 2,7 juta dikatakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengikuti tingkat inflasi hasil dari perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS).

"Kita kan sudah putuskan UMP terus naik harga BBM, nah kita minta BPS naiknnya BBM inflansi berapa sih? ternyata cuma nambah 1,43 persen. Kalau cuma 1,43 dihitung yang kemarin KHL ya kalinya 1,43 dong," ungkap Ahok di Balai Kota, Selasa (16/12/2014).

Dikatakannya dengan adanya angka inflasi 1,43 persen, maka tidak mungkin UMP DKI bisa mencapai Rp 3 juta. Mentok-mentoknya angka UMP dikisaran Rp 2,73 juta. Angka tersebut pun dikatakan Ahok dalam menentukan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sudah menggunakan merk paling bagus untuk air minum mineral kemasan dan mie instan.

"Itu pun sudah kita naik-naikkan kita proyeksikan. (Katanya) naikkan dong pak buletin, saya bilang ya nanti deh. Tapi kalau minta Rp 3 juta nggak masuk akal," ungkapnya.

Kenaikan UMP sangat tergantung, bila dipaksakan pun menggunakan pertumbuhan ekonomi, dikatakan Ahok pertumbuhan ekonomu turun akibat kenaikan BBM dan dollar naik.

"Kalau dia turun nggak bisa dia pakai yang turun kan. Paling kalau jadi juga cuma Rp 2,73 juta. Kalau saya bulatkan juga cuma Rp 2,75 juta misalnya. Kalau kita turunin itu bisa-bisa cuma Rp 2,7 juta," ujarnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini