TRIBUNNEWS.COM - Keterbatasan fisik tak menghalangi pengabdian Maryono seorang guru untuk mengajar akan muridnya.
Maryono adalah korban insiden mobil MBG yang menabrak belasan siswa dan dirinya pada Kamis pagi 11 Desember 2025 di SDN 01 Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.
Dia tetap datang ke sekolah, mengajar dengan penuh kesabaran meski setiap langkahnya harus ditopang tongkat.
Baca juga: Kondisi Siswa SD yang Ditabrak Mobil MBG di Jakut, Prabowo Jenguk Korban, Polisi Beri Trauma Healing
Pengorbanan Maryono Mengajar Anak Muridnya
Sejak pagi hari, Maryono sudah tiba di sekolah.
Menggunakan alas kaki sandal, ia beraktivitas dengan bantuan tongkat.
Setiap langkah memerlukan konsentrasi ekstra.
Aktivitasnya terbatas, untuk mengajar ia lebih banyak duduk karena kakinya bengkak, sering nyeri, ngilu dan pegal.
“Karena belum boleh menapak, aliran darahnya belum berjalan normal jadilah bengkak,” tutur dia.
Meski geraknya perlahan, Marjono tetap menampilkan wajah tenang dan bahagia karena bisa bertemu kembali dengan siswa-siswanya.
Pasca kejadian, dirinya dirawat intensif selama 1 minggu di RS, ia menjalani operasi pemasangan pen dan selama dua minggu ini rutin kontrol ke dokter.
“Hari Senin lalu adalah hari pertama saya masuk kembali ke sekolah. Kata dokter saya mengalami patah tulang dan harus dipasangi pen,” kata dia saat berbincang dengan Tribunnews.com.
Saat ini, kaki sebelah kirinya masih berbalut perban setelah dilakukan pemasangan pen.
Fokus utamanya kini adalah pemulihan dengan menjaga luka jahitan tetap bersih sambil menunggu tulang menyatu.
“3 bulan lagi kaki saya baru boleh menapak tanah. Sekarang masih pakai tongkat dulu,” tutur dia.
Maryono lalu menceritakan detik-detik mobil naas menabrak dirinya.
Baca tanpa iklan