“Kami sudah arahkan masuk jalur Rawabuaya, mereka tidak mau. Tetap melawan petugas, ya stuck di situ. Ditambah lagi banyak yang melawan arus, akhirnya tidak bisa lewat sama sekali. Itu yang bikin stuck,” ungkapnya.
Suara Pengendara
Akibat macet berkepanjangan, sejumlah pengemudi memilih mematikan mesin kendaraan untuk menghemat bahan bakar.
Bahkan, satu unit mobil pemadam kebakaran dan bus Transjakarta ikut terjebak di tengah antrean.
David (40), sopir truk yang hendak menuju Pelabuhan Tanjung Priok, mengaku pasrah.
“Matiin aja lah biar enggak boros, enggak gerak juga,” kata David. Ia berharap persoalan banjir dan kemacetan di Daan Mogot segera ditangani serius. “Bingung, kayak enggak belajar dari kejadian sebelumnya,” ujar David, dikutip Kompas.com.
Banjir dan Macet Berulang
Masalah banjir dan kemacetan di Jalan Daan Mogot bukan kali pertama terjadi.
Beberapa hari sebelumnya, banjir setinggi hampir 50 sentimeter juga merendam kawasan tersebut dan memaksa kendaraan berat melaju perlahan atau berputar balik.
Warga pun kembali berharap pemerintah segera menemukan solusi permanen agar banjir dan macet tak terus berulang di salah satu jalur utama Jakarta Barat itu.
Imbauan Polisi
Mengantisipasi cuaca ekstrem, polisi mengimbau masyarakat memantau informasi lalu lintas melalui TMC Polda Metro Jaya.
Jika hujan deras kembali turun, pengendara diarahkan mencari jalur alternatif, seperti Rawabuaya dari arah Tangerang atau Kebon Jeruk dari arah Grogol.
“Kami menghimbau kepada pengendara agar selalu berhati-hati, jangan melawan arus, dan tolong perhatikan instruksi petugas di lapangan demi kenyamanan bersama. Gunakan helm dan kontrol emosi, jangan sampai stres di jalan,” pungkas AKP Yeni.
Macet parah di Daan Mogot jadi cermin masalah klasik Jakarta: banjir berulang dan perilaku pengendara yang abai aturan. Publik menanti solusi permanen agar jalan utama ini tak terus lumpuh setiap hujan deras.
Baca tanpa iklan