TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad menilai rencana kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke Ukraina dan Rusia menjadi bahan kajian yang menarik.
Situasi perang di Ukraina sejak invasi tentara Rusia pada 24 Februari 2022 hingga saat ini masih mengkhawatirkan. Perang sudah memasuki bulan kelima namun belum ada tanda-tanda akan berakhir.
Lamanya perang tersebut di luar perhitungan sejumlah pihak. Ukraina yang berdasarkan kekuatan militer jauh di bawah Rusia dan diperkirakan akan cepat “dikalahkan”, ternyata mampu bertahan dengan pola pertahanan yang dibangunnya.
"Ukraina memang mendapat dukungan persenjataan dan dana dari negara-negara Barat yang tergabung dalam NATO (termasuk AS di dalamnya), namun Barat tidak bisa ikut berperang langsung. Mereka menghindari berhadapan langsung dengan Rusia agar tidak terjadi perang yang lebih besar," ucap Fadel dalam rilisnya, Selasa (28/6/2022).
Ukraina bukan anggota NATO sehingga tidak ada kewajiban bagi NATO mengirimkan pasukan. NATO juga melarang anggotanya ikut campur langsung dalam perang Rusia-Ukraina dan mengancam akan memberi sanksi berat. Jika NATO memberi bantuan dengan mengirim pasukan, Rusia bisa menyerang anggota NATO dan menimbulkan perang di Eropa yang lebih besar. Begitu juga jika Rusia menyerang negara anggota NATO akan menimbulkan perang Eropa karena balasan NATO.
Skenario ini menunjukkan bahwa perang yang terjadi saat ini hanya akan melibatkan dua pihak yaitu Ukraina dan Rusia. Ukraina akan dibiarkan sendiri melawan Rusia sedangkan pihak-pihak yang bersimpati memberikan bantuan berupa pasokan senjata, amunisi, pelatihan militer dan dana tanpa kiriman pasukan. AS diberitakan mengucurkan bantuan hingga US$40 miliar.
Inggris memberi bantuan antara lain berupa pelatihan terhadap 20.000 orang Ukraina. Pelatihan juga diberikan oleh AS. Pelatihan tentu membutuhkan waktu dan waktunya berkejar-kejaran dengan makin intensifnya serangan Rusia. Dengan demikian, kemampuan Ukraina yang bisa bertahan hingga sejauh ini diapresiasi banyak pihak karena kemampuan sendiri.
Apresiasi itu bisa menumbuhkan kepercayaan diri Ukraina yang mungkin merugikan dari sisi upaya perdamaian. Hal ini tampak dari Ukraina yang dianggap menahan diri untuk berunding dengan Rusia.
Apalagi ada sejumlah pihak di Eropa yang menghendaki agar mereka terus mendukung Ukraina untuk memenangkan perang. Menurut Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss, jika Rusia menang, akan menjadi ancaman bagi Eropa sehingga upaya memenangkan Ukraina menjadi penting. Ini sinyal kurang baik bagi upaya perdamaian.
Sementara Rusia menyebutkan bahwa mereka sudah membuka pintu untuk maju ke perundingan. Hanya saja hambatannya, menurut pendapat mereka, terletak pada kemauan Ukraina.
"Kami, di pihak kami, siap untuk melanjutkan dialog. Tetapi saya ingin menekankan bahwa bola pembicaraan damai lebih lanjut ada di pengadilan Ukraina. Pembekuan pembicaraan adalah inisiatif sepenuhnya Ukraina," kata asisten Vladimir Putin, Vladimir Medinsky, dalam wawancara dengan stasiun televisi Belarusia, ONT, seperti dikutip Republika.
Kerugian Ekonomi
"Berlarutnya perang berdampak pada ekonomi global. Baik Ukraina maupun Rusia merupakan pemasok komoditas ekonomi tertentu yang cukup signifikan. Rusia, misalnya, merupakan pemasok bahan bakar fosil (minyak bumi, gas alam, dan batu bara)," kata Fadel.
Menurut perkiraan European Parliament pada pertengahan Juni 2022, ekonomi OECD dengan mempertimbangkan rasio ketergantungan seluruh ekonomi negara-negara OECD pada impor dari Rusia untuk tiga bahan bakar fosil (batubara, gas, dan minyak bumi), penghentian tiba-tiba semua impor bahan bakar fosil dari Rusia akan mempengaruhi semua sektor ekonomi, terutama sektor penghasil energi, transportasi, mineral, dan manufaktur logam.
Dengan tidak mempertimbangkan substitusi sumber energi tersebut dengan sumber energi lain, secara agregat penghentian pasokan energi fosil dari Rusia dapat menyebabkan output sektor manufaktur dan jasa-jasa negara-negara OECD akan berkurang antara 2,75 persen-3 % . Sekitar setengah dari penurunan output tersebut akan disebabkan oleh kekurangan minyak bumi dan produk minyak bumi, dengan sebagian besar sisanya dari kekurangan gas alam.
Baca tanpa iklan