TRIBUNNEWS.COM, Jakarta -
Detasemen Khusus (Densus) Polri trauma. Mereka tak mau kembali kehilangan anggotanya dalam tugas operasi di lapangan. Atas alasan itulah, Densus menembak mati kelima teroris di Cikampek dan Cawang.
"Polri dalam hal ini Densus, tidak mau ambil resiko lagi. Karena di Aceh
Besar, anggota Polri, khususnya Densus ada yang gugur," ujar Wakadiv Humas
Polri, Brigjen Pol Zainuri Lubis, di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (13/5/2010).
Polri mengaku sangat menyayangkan sikap dan langkah penembakan itu harus
dilakukan. Dikatakannya, Polri tak akan mengambil sikap menembak mati
teroris jika mereka mau menyerahkan diri dan tidak melawan saat hendak
ditangkap.
"Disayangkan ketika mau ditangkap mereka melakukan perlawanan. Jadi kalau
mereka ambil perlawanan, tindakan kepolisian akan kami ambil. Kan ada
standar operasi yang membenarkan kami melakukan itu. Kalau mereka menyerah,
tidak melakukan perlawanan, kami pun tetap menjunjung tinggi hak asasi
manusia. Seperti tiga orang di Bekasi yang tidak lakukan perlawanan,"
tuturnya.
Saat ditanya apa bentuk perlawanan yang dilakukan para teroris di dua lokasi
itu, Zainuri tegas mengatakan mereka menolak dan berontak saat hendak
ditangkap.
"Apa lagi mereka punya senjata, kita tidak mau ambil resiko
dimana di Aceh kita ada korban. Jadi ketika ada informasi perlawanan, kita
ambil tindakan dan berdasarkan hukum kita ambil tindakan," ujarnya.
Terkait peristiwa di Cawang dan Cikampek, Polri kembali mengingatkan dan
menghimbau masyarakat untuk selalu waspada dan memberikan informasi maksimal
pada petugas Polri jika menemukan orang-orang yang mencurigakan.
"Karena dari awal semua menyewa dirumah kontrakan. Agak mencurigakan, tidak
jelas apa pekerjaannya. Dimohon warga partisipasi melakukan kontrol, apalagi
kan ada ketentuan apabila ada orang 1x24/jam harus lapor ke RT," tukasnya.
Baca tanpa iklan