News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Korban Lumpur Lapindo Jadi PSK

Penulis: Ferdinand Waskita
Editor: Anwar Sadat Guna
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Beberapa LSM yang tergabung dalam Gerakan menuntut Keadilan Korban Lapindo, menggelar aksi unjuk rasa dan teatrikal di depan Istana Negara Jakarta, Rabu (19/5/2010).

Laporan Wartawan Tribunnews.com: Ferdinand

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
- Di tengah karut marut penanganan Lumpur Lapindo yang belum tuntas hingga hari ini, membuat masyarakat sekitar yang menjadi korban kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian.  
Kondisi tersebut memaksa masyarakat mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan ekonomi sehari-hari.

Seperti yang diungkapkan Dewi dari Solidaritas Perempuan saat acara peringatan Empat Tahun Lumpur Lapindo di Markas Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Jl Tegal Parang, Jakarta Selatan, Jumat (28/05/2010).

Ia mengungkapkan, saat ini terdapat empat perempuan korban Lumpur Lapindo menjadi pekerja seks komersial (PSK) di sekitar Sidoarjo seperti di kawasan Dolly Surabaya dan Pasuruan.

Hal ini dikarenakan tuntutan ekonomi keluarga untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari.

"Peran gender yang menempatkan perempuan sebagai penjaga keluarga membuat beban ganda, perempuan sebagai penjaga keluarga dan pencari nafkah utama," ujar Dewi.

Menurut Dewi, selain menjadi PSK, perempuan juga rentan dilecehkan akibat pekerjaan mereka yang sebagian menjadi tukang ojek.

Ketika hal itu ditanyakan kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Solidaritas Perempuan mendapat jawaban bahwa kementerian tersebut tidak mempunyai program khusus. "Mereka menangani korban Lapindo dengan bantuan sekedarnya," pungkas Dewi.

Menurut informasi yang disampaikan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ditemukan empat perempuan korban Lapindo bekerja sebagai PSK di Lokalisasi Dolly, Surabaya, Tretes dan Pasuruan dengan usia berkisar 16-35 tahun.

Alasan mereka menjadi PSK tidak lain karena tuntutan ekonomi keluarga. Banyak perempuan juga yang akhirnya menjadi korban trafficking dan penipuan. Laporan Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Sidoarjo mengatakan terdapat 4 perempuan yang ditipu dan dijadikan PSK di Tretes.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini