News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Asmida: Serahkan Pada Tuhan Saja

Penulis: Vanroy Pakpahan
Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dua dari 10 perwira Polri yang dikirim ke Haiti

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - WANITA muda itu menolak saat Tribunnews.com, mencoba memintai perasaan dan persiapannya saat terpilih menjadi satu diantara 10 perwira Polri yang akan diberangkatkan bertugas dalam misi perdamaian PBB ke Haiti. "Ke pak Komandan saja mas," pintanya.

Sedikit rayuan dan "hadiah" berupa temannya satu kelompok yang juga akan berangkat ke Haiti, akhirnya wanita muda itu pun luluh. Tegap posisi sikapnya segera terhampar.

Asmida Rizki Siregar nama wanita itu. Inspektur satu polisi pangkatnya. Wanita 27 tahun itu memang menjadi pusat perhatian beberapa pasang mata di ruangan rapat utama (Rupatama) Mabes Polri yang hadir untuk menyaksikan proses pelepasan 10 perwira Polri yang hendak ke Haiti itu.

Dia satu-satunya perempuan di barisan prajurit-prajurit terbaik itu. Asmida, dirinya mengaku polisi merupakan impian dan cita-citanya sedari kecil. Meski orangtuanya, berprofesi sebagai guru dan tak pernah ada darah militer mengalir di tubuhnya.

Tak gentar dan takut akan nasibnya, termasuk kemungkinan terburuk tak dapat melanjutkan hidupnya di dunia, Asmida mengaku menyerahkan segenap diri dan kisah hidupnya di Haiti nantinya kepada Tuhan.

"Serahkan sama Tuhan saja. Saya nggak takut apa-apa di dunia," katanya tegas.

Diceritakannya, dirinya tak pernah menyangka akan menjadi satu dari 10 perwira Polri yang lulus tahapan seleksi PBB untuk melaksanakan misi perdamaian dunia.

"Kita dites oleh PBB. Dites UNSAT. Kemudian lulus. Dengan sistem gugur. Jadi yang gugur tidak lulus ke tes selanjutnya. Akhirnya terpilih sebagai standby force mewakili Polri," ceritanya.

Kabar membahagiakan dan membanggakannya serta keluarganya itu hadir pada dua tahun lalu. Sejak itu juga, Asmida mengaku telah mempersiapkan dirinya pergi ke Haiti. Meski seorang wanita yang cenderung lebih rumit mempersiapkan diri ketimbang pria, tak ada persiapan khusus dari wanita bersuami itu di pengalaman tugas pertamanya keluar negeri dalam judul misi perdamaian PBB.

"Hanya siapin mental dan fisik untuk tetap fit saja. Yang lain sama saja (dengan pria), latihan khusus," tuturnya. Yang mungkin agak berat, dituturkannya, saat dirinya harus meyakinkan keluarga besar dan suaminya untuk mengizinkannya pergi ke Haiti. Perjuangan itu akhirnya berbuah manis ketika keluarga besar dan suaminya ikhlas melepaskannya sembilan hingga 12 bulan "merantau" ke negeri orang.

"Keluarga menanggapi positif. Kan bukan buat pribadi, buat Indonesia juga," akunya mengungkap sedikit "caranya" merayu keluarga besar dan sang suami. Bukan hal yang muda memang mengingat Asmida baru saja mengarungi bahtera rumah tangga bersama suaminya yang seorang pegawai negeri sipil. Asmida, perempuan itu baru mengikat janji setia sehidup semati dengan pria yang dikasihinya pada Februari 2010 silam.

Sekali lagi, pilihan hidupnya yang sedari kecil ingin menjadi seorang penegak hukum abdi negara membuat sang suami dan keluarga besarnya "takluk" juga meski dengan kesedihan akan berpisah sementara waktu.

Kompol Juliarman Ekaputra Pasaribu namanya. Dialah satu-satunya alasan Asmida akhirnya "takluk" dan mau menceritakan sedikit persiapan dan perasaannya terpilih menjadi satu dari 10 perwira yang akan berangkat ke Haiti demi nama misi perdamaian.

"Saya bangga bisa menjadi perwakilan Polri untuk menjaga perdamaian dunia dan terlibat langsung dalam misi perdamaian dunia," akunya mengungkap perasaannya kini. Serupa dengan Asmida, tak ada persiapan khusus tertentu yang dilakukan Juliarman dalam "perantauan" pertamanya ini ke luar negeri sebagai polisi.

Dirinya hanya secara khusus memberikan pengertian kepada keluarga dan istri tercinta perihal keberangkatannya itu. Bahwa kepergiannya untuk perdamaian dunia khususnya Haiti dan pengharuman nama Indonesia menjadi senjatanya "menaklukkan" keluarga dan istri. "Pengertian dari keluarga sangat mensupport dan membantu kita untuk dapat berbuat yang terbaik," katanya.

Tak perlu banyak waktu untuk menanamkan pengertian itu. Itulah setidaknya pengakuan Juliarman. "Saya sudah biasa seperti ini. Bepergian tugas. Sebagai istri dan keluarga polisi tentunya dia (istri) dan keluarga sudah tahu tugas dan fungsi serta kewajiban saya," ucapnya.

Juliarman mengaku istrinya sedih bukan kepalang saat diberitahu akan ditinggalkan oleh Juliarman untuk sementara waktu. Berat hati pun membumbui kesedihan itu.

"Tapi sebagai istri seorang penegak hukum, seorang aparat negara yang harus siap ditugaskan dan ditempatkan dimana saja, ya dia juga harus siap dan mengerti bahwa tugas dan apa yang kita lakukan ini untuk negara," tegasnya lagi.

Serupa dengan Asmida, Juliarman pun mengakiu menyerahkan semua diri dan kisah selanjutnya hidupnya di Haiti kepada sang pencipta. Dia mengaku enggan berpikiran dan berangan terlalu jauh akan kemungkinan bencana yang dapat hadir ke hidupnya dan istri dalam tugas itu.

"Keluarga yang penting sudah ikhlas. Tapi ada gimananya. Mereka bilang gimana nanti kalau kangen," ucapnya sembari tersenyum tanpa mengakhiri perkataannya itu.(Vanroy Pakpahan)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini