TRIBUNNEWS.COM,
JAKARTA - Seorang guru di SDN Ma'lengu, Kecamatan Bontolemapangan,
Gowa, Sulawesi Selatan, berhasil menemukan mesin pencari planet yang
bisa digunakan sebagai alat peraga pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
yang diajarkan di kelas-kelas.
Sang penemu, Ayatollah Hidayat,
mengatakan penemuan tersebut tercetus saat melihat murid-muridnya
kesulitan menghafalkan nama-nama dan susunan planet di jajaran tata
surya.
Ayat mengaku, mesin temuan yang diberi nama MP2, singkatan
dari Mesin Pencari Planet tersebut diciptakan sangat singkat. Hanya
memakan waktu dua hari saja. Satu hari untuk memikirkan rangkaian arus
listrik, dan satu hari lainnya untuk membuat bagan dan merakit alat
tersebut. Temuan itu menurutnya mampu membantu para siswa untuk lebih
mengenal planet dan susunan tata surya lebih maksimal ketimbang
memberikan media visual lainnya di dalam kelas.
Ayat menuturkan,
dengan mesin pencari planet buatannya, anak-anak ternyata bisa lebih
merasa senang dalam belajar astronomi. Mereka tinggal menunjuk salah
satu nama planet yang terpampang di mesin dengan salah satu pen
penunjuk, lalu dengan pen yang lain mereka mulai mencari lokasi planet
tersebut. Jika planet yang ditunjuk benar dan sesuai dengan nama planer
yang dicari, maka lampu indikator yang berada di tengah alat tersebut
akan secara otomatis menyala.
"Penggunaan alat ini sangat
sederhana. Anak-anak hanya menunjuk satu nama planet dengan pen warna
hitam, lalu mencari planet yang dimaksud dengan pen warna merah. Jika
cocok, maka lampu indikator akan menyala," jelas Ayat saat memberikan
presentasinya di depan dewan juri LIPI dalam Lomba Kreativitas Ilmiah
Guru (LKIG) ke-18 yang digelar LIPI di Hotel Bumi Wiyata, Depok. Senin
(2/8/2010).
Bahan untuk membuat mesin pencari planet hasil karya
Ayat sangat sederhana. Delapan planet yang terdapat dalam tata surya
dibuat dengan menggunakan tutup botol plastik beragam ukuran.
Planet-planet dari tutup botol itu kemudian dihubungkan dengan rangkaian
kabel paralel yang masing-masing berujung pada paku buku yang diletakan
pada bidang nama planet di bawah lingkaran tata surya dengan bahan
tampah bambu untuk mengayak beras.
Kabel-kabel tersebut berpusat
pada baterai sebagai power yang menyuplai aliran listrik hingga membuat
lampu indikator menyala saat dua kutub panel disatukan lewat dua pen
penunjuk. Satu pen menempel pada kutub panel nama planet, satunya lagi
menempel pada planet-planet tutup botol tersebut. Tentu saja, jika pen
yang satu tidak sesuai dengan kutubnya, maka lampu indikator tidak
menyala.
"Keasyikan anak-anak mencari planetnya ya disitu. Jika
nama planet dengan planet yang ditunjuk tidak pas, maka lampu tidak
menyala. Karena memang bukan kutubnya. Jadi seperti sakelar saja. Jika
pen yang ujungnya pakai logam ini ditempelkan pada masing-masing kutub
maka lampu pasti menyala," papar warga Desa Palangga, Kabupaten Gowa
kelahiran Oktober 1985 silam itu.
Anak kedua dari empat saudara
pasangan Muhammad Amir dan Nursiah tersebut berharap penemuannya dapat
menjadi bahan masukan bagi dunia pendidikan di tanah air sebagai bahan
sarana praktek di kelas. Ia juga berharap, diberi dukungan oleh berbagai
pihak untuk terus mengembangkan karyanya tersebut. Bahkan, sejumlah
rencana telahg ia susun menyempurnakan kreasinya itu.
"Nantinya mau
ditambahkan sound yang bisa didengar saat siswa berhasil melacak planet
yang ia cari. Pasti lebih heboh lagi," ujar Ayat yang mengaku ingin
segera menikah usai gelaran lomba tersebut.
Guru Pedalaman Gowa Temukan Mesin Pencari Planet
Penulis: Alie Usman
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan