News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Penangkapan Baasyir

Ba'asyir Diundang Melihat Pelatihan Militer di Aceh

Penulis: Vanroy Pakpahan
Editor: Anwar Sadat Guna
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Abu Bakar Baasyir

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vanroy Pakpahan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Daerah pegunungan Jantho, Aceh, yang  dipilih sebagai tempat latihan militer teroris Aceh tak lepas dari peran Ubaid Al Lutfi Haidaroh Al Abu Jakfar, Dulmatin, dan Abu Tholut yang melakukan survei ke lokasi. Setelah seluruh peserta latihan militer berdatangan, pelatihan langsung dibuka secara resmi oleh Dulmatin.  

Abu Yusuf sendiri bertindak sebagai pimpinan pelatihan. Ia juga berperan sebagai map reading.

Pria asal Lampung, lulusan Akademi Militer (Akmil) Jamaah Islamiyah (JI) di kamp Hudaibiyah, Mindanao, ini diduga memiliki senjata laras panjang M-16 Armalite.

"Ardi pada bagian logistik, Mahfud pada bagian senjata, dan Ubaid pada posisi bendahara," ujar Kadiv Humas Polri, Brigjen Pol Iskandar Hasan di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (18/8/2010)

Peserta latihan dibagi menjadi tiga kelompok dan diajari latihan fisik, bongkar pasang senjata, menembak, dan taktik perang. Setiap hari, kegiatan latihan itu didokumentasikan oleh Ubaid dalam sebuah video menggunakan handy camera.

Pada Februari 2010, Abu Tholut pun menghubungi Ubaid dan meminta Ubaid datang ke Jakarta untuk menghadap Ba'asyir dengan membawa laporan hasil tentang kegiatan latihan militer di Pegunungan Jantho, Aceh Besar itu.

"Laporan ini cukup bagus, cukup rapi. Ada kata salam, pembukaan, uraian kegiatan. Bentuknya dokumen, tapi video kegiatan (latihan militer) itu dilampirkan juga. Dalam laporan juga disebut tentang persenjataan latihan yang sudah ada, tapi masih kurang."

"Di laporan juga disebutkan harapan ke depan, tentang usulan membentuk Tandzim Al Qaeda Serambi Mekah, dan meminta ABB (Abu Bakar Ba'asyir) meninjau langsung kegiatan latihan di Aceh," jelas Iskandar.

Pada 2 Februari 2010, Ubaid berangkat dari pegunungan Jantho membawa handy camera dan laporan hasil latihan yang diminta Abu Tholut. Esok harinya, bersama dengan Jaya dan Haszollah dengan menggunakan mobil mereka berangkat ke Jakarta.

Setibanya di Lampung pada 5 Februari, mereka bertemu Dulmatin dan bersama-sama dengan Dulmatin kembali melanjutkan perjalanan ke Jakarta keesokan harinya.

"Tiba di Kantor JAT Pejaten, bermalam di situ. Kemudian Dulmatin ke rumahnya di Pamulang," kata Iskandar. Pada 7 Februari, saat shalat Subuh, Ba'asyir tiba di Kantor JAT Pejaten tersebut. Tak lama berselang, sekitar pukul 07.00 datang juga Haris Al Falah, ketua JAT Jakarta.

Disana, Haris menyerahkan uang sebesar Rp 50 juta kepada Ba'asyir yang oleh Ba'asyir lalu diserahkan kepada Ubaid disaksikan Haris dan beberapa orang lainnya seperti Denny Suramto.

Sekitar pukul 08.00 Wib, Ba'asyir pun meninggalkan kantor JAT DKI Jakarta, Pejaten itu. Namun, sore harinya, dia kembali ke sana dan berdiam di sana hingga malam hari. Pada sekitar jam 20.00 di hari yang sama, Ba'syir meminta Ubaid untuk melaporkan perkembangan hasil latihan militer di Aceh tersebut. Ubaid pun mempertontonkan juga video latihan militer di Aceh yang di dokumentasikannya sepanjang kurun waktu tersebut.

"Kegiatan-kegiatan (latihan militer) itu direkam dalam video kurang lebih durasinya satu jam," terang Iskandar. Haris, Jiat, dan Ubaid turut menyaksikan video itu. 15 menit kemudian, Abu Tholut juga turut bergabung menonton video itu.

Setelah menonton video, Ubaid, menurut pengakuannya, lalu menyerahkan laporan hasil perkembangan latihan militer di Aceh yang dibuatkan oleh Abu Yusuf. "ABB meminta Ubaid membacakannya di hadapan semua orang di situ," ujarnya.

Puas melihat video dan laporan berbentuk surat itu, Ubaid mengaku, ABB pun menyatakan akan mendukung dana pelatihan militer itu. "Namun tidak menyebutkan berapa dananya," tutur Iskandar.

Tanggal 8 Februari, sekitar pukul 10.00, Ba'asyir, Ubaid, Haris, Mukhlis alias Maulana alias Ruslan alias Lukman alias Zakaria menuju rumah Haryadi Usman, pengusaha paralon yang diketahui menyetorkan dana sebesar Rp 150 juta untuk kegiatan latihan teroris tersebut.

Di lantai dua rumah Haryadi itu, Ubaid kembali mempertontonkan video itu. Ba'asyir turut menyaksikannya untuk kali kedua. "Tujuannya untuk meyakinkan bahwa uang yang telah diberikan benar-benar digunakan untuk latihan di Aceh," papar Iskandar.

Selesai menonton, Ba'asyir pun kembali ke Solo melalui bandara Soekarno-Hatta. Pada 12 Februari, Ubaid, Jaya, dan Jiat, kembali ke Aceh. Pada 13 Februari mereka melanjutkan perjalanan ke Pegunungan Jantho. Pada 21 Februari, para pimpinan yang masuk struktur kepengurusan kelompok latihan militer di Aceh itu mendengar kabar jika lokasi latihan mereka telah diketahui oleh polisi.

Pada 22 Februari, satu per satu mereka sudah mulai meninggalkan lokasi. "Pecah. Ada yang ketangkep di Medan, Jakarta, kita tangkap satu demi satu, menyicil," tandas Iskandar.

Menurut Iskandar, kronologis ini merupakan pengakuan Ubaid. Namun menurutnya, penyidik  telah mengkroscek keterangan Ubaid tersebut kepada anggota teroris lainnya yang juga sudah tertangkap. "Dari keterangan Ubaid, semua dana diserahkan kepada Dulmatin," katanya mengakhiri. (Tribunnews.com/roy)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini