TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pidato
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disayangkan banyak pihak karena
tidak menunjukkan ketegasan posisi Indonesia terhadap Malaysia. Namun
Partai Gerindra menilai pidato SBY sudah sesuai dan itu jalan yang
terbaik melalui jalur diplomasi.
"Kita memang punya hubungan erat
dengan Malaysia, jalur musyawarah atau diplomasi harus kita lakukan.
Jangan terprovokasi oleh segelintir orang untuk melakukan konfrontasi,
jalur diplonasi aja belum. Kalau Melaysia tidak mau, baru ambil tindakan
yang lebih tegas," ujar Edhy Prabowo anggota DRR RI dari komisi VI
Partai Gerindra, saat ditemui di Jakarta, Sabtu (4/9/2010).
Anak angkat
Prabowo ini mengaku, seharusnya SBY bisa menjelaskan soal kapan
perundingan masalah perbatasan atau persoalan lain dibicarakan. Sehingga
masyarakat bisa menerima hasilnya secara cepat dan tidak mudah
terprovokasi.
"Harusnya diplomasi dilakukan tanggal sekian, bulan
sekian dan selesai, Kan beres. Kalau melanggar sanksinya ini, jadi biar
tidak berlarut-larut," jelasnya.
Soal 2 juta tenaga kerja Indonesia
yang ada di Malaysia menurut Edhy, tidak usah dikhawatirkan jika
Malaysia mengembalikannya ke Indonesia.
"Kita paksa Malaysia untuk
memperkerjakan 2 juta TKI ke perusahaan Kelapa Sawit miliknya yang ada
di Indonesia, kan beres," terangnya.
Pria yang memegang beberapa
perusahaan milik Prabowo ini juga menilai, kalau investasi yang
dilakukan Malaysia di Indonesia tidak banyak hasil yang di dapat oleh
bangsa Indonesia kecuali pajak dan gaji karyawan.
"Selebihnya kembali
ke Malaysia, jadi gak usah takutlah soal investasi Malaysia, tidak
terpengaruh besar. Yang penting jalur diplomasi jalani dulu," jelasnya.
Edhy Prabowo: Janganlah Perang Dijadikan Solusi
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan