News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Busyro Ketua KPK

Innallillahi... Ini Tidak Menyenangkan tapi Mulia harus Dipertanggungjawabkan

Penulis: Willem Jonata
Editor: Iswidodo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua KPK Busyro Muqoddas menikmati sarapan lotek di rumahnya, sehari setelah terpilih menjadi ketua KPK, Sabtu (27/11/2010)

Laporan Willem Jonatha dari Yogyakarta

TRIBUNNEWS.COM-YOGYAKARTA-
Sudah tiga minggu Busyro Muqoddas berada di Jakarta. Kesibukannya sangat padat terkait akhir masa jabatannya sebagai Ketua Komisi Yudisial dan proses pemilihan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang ditunggu-tunggu banyak orang. Hari ini, ia memilih pulang ke Yogyakarta. Melepas rindu dan menghabiskan waktu bersama istri dan ketiga anaknya.

Sabtu (27/11) pagi, Busyro tiba di kediamannya, Kampung Tegalsari, UH VI/113, Yogyakarta. Tubuhnya tampak lelah setelah melakukan perjalanan singkat di atas pesawat. Karena itu, ia perlu beristirahat dengan merebah sejenak di kamar.

Rumahnya sepi. Namun, pintu gerbang rumahnya itu terbuka lebar. Istrinya baru saja berangkat untuk mengajar. Sementara, ketiga anaknya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Hanya ada seorang pembantu rumah tangga yang membukakan pintu untuk Tribunnews, pagi itu.

"Bapak sedang istirahat. Badannya lelah. Soalnya, bapak baru saja pulang dari Jakarta," kata pembantu rumah tangga yang sudah bekerja  20 tahun lebih untuk keluarga pak Busyro.

Beberapa jam kemudian, Busyro muncul di ruang tamu. Wajahnya tampak segar dengan busana kemeja batik cokelat lengan panjang dipadu celana bahan. Ia langsung menawarkan hidangan makanan ringan dan sirup kepada Tribunnews untuk disantap.

"Semester ini saya tidak mengajar. Mungkin semerter depan. Tapi jadwalnya belum tahu. Hari ini saya ada rapat untuk menentukan judul buku. Setelah itu menghabiskan waktu sama istri dan anak-anak saya di rumah. Mungkin, nanti kita sama-sama makan bakmi Jawa di jalan Parangtritis," katanya.

Busyro, saat ini, sedang menggarap sebuah disertasi yang diformat menjadi buku. Isinya, mengungkap kasus peradilan komando jihad di tahun 1985. Sekitar pukul satu siang, ia harus ikuti rapat dengan tim untuk menentukan judul bukunya tersebut. Ia menulis buku itu baru-baru ini karena kesibukannya di Komisi Yudisial.

‎Bincang-bincang itu kemudian terputus karena azan solat Dzuhur berkumandang. "Maaf ya, saya solat dulu. Tunggu sebentar. Atau solat bareng saya di masjid," katanya sembari menawarkan. Tanpa berlama-lama, Busyro langsung beranjak menuju Msajid An-Nashir yang terletak di samping rumahnya.

Usai solat Dzuhur, tampak Busyro bersalam-salaman dengan jemaah di masjid itu. Sejumlah tetangga sempat mengucapkan selamat karena terpilih menjadi Ketua KPK untuk satu tahun ke depan. "Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Atas izin Allah, amanat yang diberikan ke saya, kan harus dipertanggungjawabkan. Sifatnya, tidak menyenangkan, melainkan memprihatinkan. Tapi ini mulia. Mohon doanya," ujarnya.

Kemudian, Soimah Kusuma Wahyuni, (46), muncul di ruang tamu. Ia membawakan dua bungkus lotek kesukaan suaminya itu. Lotek adalah makanan khas Jogja yang bahan-bahannya dari sayur-sayuran. Seperti karedok, bedanya kalau lotek sayurannya digodok dulu.

Tanpa basa-basi, Busyro menyantap lotek dengan lahap. Sesekali ia meladeni obrolan istrinya itu tentang talk show di Warung Daun, Cikini, Jakarta, yang disiarkan langsung melalui radio Trijaya FM.

"Saat ini, beberapa pendekar hukum di Indonesia berasal dari UII (Universitas Islam Indonesia). Seperti bapak dan pak Mahfud MD. Kalau peradilan di Indonesia semakin buruk, yang paling bertanggung jawab, ya alumni UII," kata Soimah sembari ngakak. Setelah mendengar ucapan istrinya tersebut Busyro ikut tertawa.

Tampakanya, Busyro tidak mau larut dengan topik yang disampaikan istrinya tersebut. Lalu ia mengomentari lotek yang sedang disantapnya dengan lahap itu. Menurutnya, tidak ada lotek lain seenak buatan tetangganya itu. Makanya, setiap pulang ke Yogyakarta, lotek menjadi menu wajib makan siangnya. "Di Jogja, apalagi di Jakarta tidak ada lotek seenak ini. Setiap pulang ke rumah, saya pasti makan lotek ini," katanya.

Setelah makan siang, Busyro bersiap-siap untuk pergi mengikuti rapat penentuan judul bukunya itu. Kemudian, ia keluar menuju halaman depan rumahnya sambil memandang ke arah langit yang mendung. Sang istri mengikutinya dari belakang. Nampaknya, sebentar lagi hujan turun.

Rencananya, Senin pagi, Busyro kembali ke Jakarta. Ia akan bersilaturahmi ke tempat para pimpinan KPK lainnya. Menurutnya, KPK itu tim. Ada prinsip kesetaraan.

"Saya harus silaturahmi mereka, Beliau-beliau itu lebih senior dari saya. Saya harus banyak bertanya kepada empat komisioner itu," ujarnya.

Sebelum mengakhiri pembicaraan, setelah masa jabatannya usai ia mengatakan akan fokus sebagai akademisi di kampusnya. Ia juga tetap aktif organisasi atau lembaga hukum yang membesarkan namanya. Belum ada rencana pensiun total. Bahkan, ia mengutarakan niatnya untuk menjadi pengacara orang-orang tak berpunya dan pantas untuk di bela di pengadilan.

"Bang Buyung saja usianya 70 tahun lebih. Dia masih bersemangat dan punya cukup tenaga untuk jadi pengacara. Tapi porsi saya jadi pengacara tidak sebanyak dulu. Tentu melihat kasusnya. Kalau secara kemanusiaan pantas dibela ya saya bela. Jadi, waktu untuk keluarga pasti lebih banyak dari sekarang," tutupnya. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini