TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menengahi polemik keistimewaan Yogyakarta, Partai Amanat Nasional (PAN)
mendorong penyelesaian Rancangan Undang-Undang (RUU) Keistimewaan
Yogyakarta dilakukan dengan menggunakan pendekatan kultural. Pendekatan
kultural dibutuhkan lantaran menyangkut posisi orang nomor wahid di
Yogyakarta.
"Kita penting melakukan pendekatan kultural karena terkait Sultan," kata
Wakil Sekjen PAN Teguh Juwarno di gedung DPR RI, Jakarta, Senin
(10/1/2011).
Pendekatan kultural, menurutnya, akan meredakan tensi politik masyarakat
Yogyakarta daripada menggunakan cara-cara prosedural yang formalistik.
"Jangan kita terjebak kepada penyelesaian prosedural yang formalistik," katanya.
Sekretaris Fraksi PAN ini menegaskan, jurus pendekatan kultural
disampaikan dalam pertemuan kerabat koalisi partai politik pendukung
pemerintahan SBY-Boediono atau yang biasa dikenal Sekretariat gabungan
(Setgab) koalisi.
"Kalau di setgab, kita rekomendasikan penyelesaian tidak prosedural,"
jelasnya seraya menyatakan, pihaknya telah menerima masukan dari DPD.
"Kita sudah dapat masukan dari DPD-DPD. Itu menjadi pertimbangan penting buat fraksi PAN," imbuhnya.
Ketika disinggung apakah RUU Keistimewaan Yogyakarta bakal dibongkar, Teguh menjanjikan akan ada pengkritisan RUUK Yogyakarta.
"Sebagai suatu usulan pemerintah ya kita persilahkan. Nanti kita kritisi di DPR," sergahnya.
PAN Pilih Pendekatan Kultural
Penulis: Ade Mayasanto
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan