TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tuntutan mundur mayoritas
warga Mesir terhadap presidennya, Husni Mubarak, dikarenakan rezim yang
sudah berkuasa selama 30 tahun ini korup. Hal ini dikatakan oleh
cendikiawan muslim yang tak lain mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Azumardi Azra dalam dialog di Kantor ICIS, Senin (07/02/2011).
"Faktanya,
rezim- rezim otoriter itu sangat korup. Dari laporan televisi
Aljazera, harta Mubarak sempat dilaporkan kurang lebih Rp 400 trilyun.
Kemudian diralat menjadi Rp 600 trilyun. Artinya, kekayaan Mubarok
separuh dari APBN Indonesia pertahun yang 30 persen untuk membayar
hutang," kata Azra.
Sikap korup Mubarak, mirip dengan rezim
Soeharto dulu. Melalui anak-anaknya, rezim Mubarok kemudian korup karena
lamanya berkuasa.
"Anak-anaknya Mubarak yang melakukan korupsi.
Sama dengan Soeharto. Sifat rezim yang korup ini kemudian, tidak
berjalannya program-program pembangunan dan kesejahteraan rakyat di
Mesir. Sekita 40 rakyat mesir miskin," ujarnya.
Meningkatkan
tingkat kemuskinan ini, Azumardi menganalisa, yang kemudian membuat
kerersahan sebagian besar rakyat Mesir. Keresahan sosial menjadi begitu
luas.
Di Mesir tidak ada sektor informal, tidak seperti di
Indonesia. Mayoritas rakyat mesir kemudian menganggap rezim Mubarak tak
bisa dipertahankan. Di Indonesia, sektor informal masih ada, orang
nganggur masih bisa jadi tukang ojek. Di Mesir, hampir tidak ada sektor
informal," katanya.
Azumardi tak memungkiri, kini ada
pemikiran paralelisme kejadian Mesir bisa berimbas ke Indonesia. Namun,
hal itu diyakininya tak akan terjadi.
"Tidak mungkin Indonesia
akan kembali terjadi people power. Saya yakini, SBY akan tetap bertahan
sampai 2014. Lebih baik membangun civil society, memilih partai
politik yang bermanfaat bagi rakyat," demikian Azumardi Azra.
Rezim Mubarak Sangat Korup
Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan