TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peristiwa
kekerasan berujung jatuhnya korban jiwa yang kerap terjadi antara
Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan warga di berbagai daerah dinilai
sebagai akumulasi amarah dari umat Islam.
Hal itu disampaikan
oleh Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto
dalam konferensi pers bersama Kahmi, Sarekat Islam, Darut Tauhid, JAT,
Al Washliyah, Hidayatulloh dan Al Ittihadiyah di kantor HTI, Tebet,
Jakarta Selatan, Jumat (11/2/2011).
Ia mengatakan, disaat ada reaksi dari umat Islam, ini bukan ruang lingkup kebebasan beragama tapi penodaan agama.
"Kebebasan beragama dan penodaan agama itu beda. Kalau kebebasan beragama kita tidak pernah merusak gereja-gereja," ujarnya.
Apa
yang terjadi terhadap Ahmadiyah, ia menambahkan, sangat bisa diterima
mengingat, Ahmadiyah yang menyatakan diri sebagai agama Islam telah
menyimpang dari ajaran pokok agama Islam dengan mempercayai nabi setelah
Nabi Muhammad yaknia Mirza Ghulam Ahmad dan Kitab Suci selain Alquran
yaitu Tazkiroh.
Namun demikian, HTI juga menyesalkan terjadinya
abentrok antara Ahamdiyah dan warga sekitar. Meskipun sesungguhnya tidak
perlu terjadi apabila ada ketegasan dari pemerintah menyangkut
keberadaan Jemaah Ahmadiyah Indonesia.
Kasus Ahmadiyah Bukan Kebebasan Beragama
Penulis: Iwan Taunuzi
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan