News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tuduhan Korupsi PKS

Pengakuan Yusuf Supendi Tusuk Jantung PKS

Penulis: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Mantan Anggota DPR 2004-2009 dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Yusuf Supendi saat mendatangi gedung Komisi Pembarantasan Korupsi di Jakarta Selatan, Senin (21/3/2011). Yusuf melaporkan Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta terkait dana Pemilukada DKI Jakarta Rp10 miliar yang digelapkan.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Politik dari Lembaga Survey Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan  “serangan” deklarator Partai Keadilan (PK), Yusuf Supendi memiliki dua kekuatan yang menusuk jantung PKS yaitu isu poligami dan korupsi.

Poligami, meski dibolehkan dalam Islam, bisa mempengaruhi dukungan pemilih perempuan terhadap PKS. Isu kedua adalah tudingan korupsi terhadap petinggi PKS. Bila terbukti, kredibilitas PKS sebagai partai bersih menjadi terlucuti.

"Kekuatan Yusuf datang dari figurnya sendiri. Selain salah satu pendiri PK, dia juga pernah menduduki jabatan strategis di partai maupun fraksi. Yusuf juga berperan besar dalam membentuk kantung-kantung harakah. Tudingan Yusuf yang dialamatkan ke elit-elit PKS juga mencoreng citra PKS yang selama ini dikenal sebagai partai disiplin dan pintar menjaga imej sebagai partai yang solid," ujar Burhanudin, Jumat (25/3/2011).

Bagaikan kotak Pandora, laporan Yusuf ke BK DPR dan KPK memicu elit-elit PKS kecewa dengan partai. Seperti halnya Yusuf, elit-elit yang membuka mulut itu ada yang dipecat atau dipinggirkan dari PKS.

Bersama Tizar Zain, Syamsul Balda, eks Wakil Presiden PK, membentuk Forum Kader Peduli (FKP). Balda yang dinilai PKS melakukan pelanggaran moral, terlihat emosional ketika menyebut PKS sekarang bergaya mafia. Abu Ridho juga turun gunung membela Yusuf yang menurutnya diperlakukan tidak etis oleh “penguasa” PKS.

"Meruncingnya aroma persaingan di internal PKS merupakan buah dari konstalasi yang tidak sehat antara kubu idealis-ideologis dengan kubu pragmatis realistis," kata Burhanuddin.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini