TRIBUNNEWS.COM,
JAKARTA - Aksi Densus 88 Polri dalam menangkap lima terduga pelaku bom
buku meninggalkan trauma sejumlah tetangga di lokasi penangkapan,
Kampung Rawadas, Pondok Kopi, Jakarta Timur, Kamis (21/4/2011).
Muryati,
44 tahun, yang kontrakannya bersebelahan dengan penghuni kontrakan yang
ditangkap, menceritakan dirinya sempat "disandera" selama satu jam di
Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Merah, saat berziarah dan berdoa di
depan makam anak pertamanya, sekitar pukul 05.00 WIB.
Lokasi TPU
Tanah Merah itu sendiri tepat membelakangi lokasi kontrakan penangkapan.
"Saya biasanya pulang salat Subuh dari musalah, langsung mampir ke
makam anak saya. Pas saya lagi doa, ada lima polisi pakai seragam hitam
dan ada yang kemeja putih. Ada tiga polisi yang pakai senjata panjang.
Saya langsung ditodong. Dan ditanya-tanya. Tangan saya langsung
dipegang. Ibu ngapain di sini (makam). ". Yah saya bilang, saya lagi
doa. Terus tangan saya dipegang sama yang baju putih, enggak boleh ke
mana-mana, saya disandera dari pukul 05.00 sampai 06.0 WIB, barus saya
dilepas," ujar Maryati dengan suara terbata-bata dan mengaku masih
trauma.
Saat dalam pengawasan polisi itu, Maryati mengaku khawatir keselamatan anak dan suaminya yang tertidur di dalam kontrakan.
Benar
saja, setelah dilepaskan polisi dan mengecek kontrakannya, ternyata
anak dan suaminya telah tidak dikontrakannya. Sejumlah jejak anggota
Densus 88 Polri, tertinggal di lokasi. Seperti taplak sepatu di pintu
masuk dan taplak kaki di lantai.
Maryati memastikan jejak di pintu itu
hasil tendangan anggota Densus 88 yang mendobraknya.
"Semua kontrakan di
sini lampunya pada mati. Langsung pada sepi. Suami dan anak saya sudah
enggak ada. Mungkin sudah berangkat kerja ke proyek. Yang sudah
meninggal dan tadi saya doakan di makan adalah anak pertama saya,"
ungkap Maryati.
Tetangga Kontrakan Sempat Disandera Saat Berdoa di Makam
Penulis: Abdul Qodir
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan