TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ajeng Rahayu Fitri, (27), mengaku keluarganya sudah siap, ketika Sabtu lalu (7/5/2011), dikabarkan pesawat yang dipiloti sang ayah, Purwadi Wahyu, (53), mengalami kecelakaan yang ikut merenggut nyawa sang ayah.
Saat ditemui wartawan usai pemakaman Purwadi di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Rabu (11/05/2011), putri kedua almarhum menyebut keluarganya menerima kecelakaan tersebut sebagai risiko pekerjaan sang ayah.
"Ketika dikabarkan bapak meninggal, kami sudah siap dengan keadaan apapun, karena sudah resiko" tuturnya dengan tegar.
Namun demikian, ia tidak menampik keluarganya merasa kehilangan, karena sosok kepala keluarga yang humoris itu tidak bisa lagi hadir diantara mereka.
Sebelum kecelakaan tersebut terjadi, ia mengaku sang ayah sempat mengabari keluarga bahwa ia akan melakukan penerbangan menuju Kaimana, Papua Barat, yang akhirnya menjadi tempat pendaratan terakhir sang pilot.
Jenazah Purwadi akhirnya dimakamkan mjelang larut malam, sekitar pukul 22:30 WIB setelah sebelumnya disalatkan di mesjid tak jauh dari kediamannya di kawasan Jatibening, Bekasi, Jawa Barat.
JenazahPurwadi baru bisa diberangkatkan ke Jakarta pada Rabu pagi karena tim SAR sempat berhari-hari menemui kesulitan untuk memindahkan jenazah sang pilot yang ikut tenggelam bersama pesawatnya.
Pemakaman larut malam tersebut menurut Ajeng adalah yang terbaik bagi almarhum. Menurutnya yang terbaik bagi seseorang yang telah meninggal adalah menguburkannya secepat mungkin.
"Orang dimakamkan harus secepatnya, karena nggak mau lama-lama maka langsung dimakamkan malam ini juga," katanya.
Keluarga Pilot Merpati Ikhlas: Musibah Jadi Risiko Pekerjaan
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan