TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memaparkan tujuh capaian yang disebut pemerintah sebagai hasil diplomasi luar negeri Presiden Prabowo Subianto dalam satu setengah tahun terakhir.
Pemaparan itu disampaikan Teddy saat merespons kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo.
Menurut Teddy, aktivitas diplomasi kepala negara perlu dinilai berdasarkan hasil yang diperoleh, bukan semata dari intensitas perjalanan.
"Jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai. Dan semua itu adalah diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo lewat berbagai macam cara, baik yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan. Karena yang terpenting bagi kami adalah hasil konkretnya," ujar Teddy dalam rekaman video yang dirilis Senin (1/6/2026).
Menurut Teddy, sejumlah hasil yang diklaim pemerintah tersebut mencakup bidang ekonomi, perdagangan, pertahanan, kemanusiaan, hingga perlindungan warga negara Indonesia (WNI).
Kritik Dino soal Kunjungan Luar Negeri Prabowo
Sebelumnya, Dino Patti Djalal menyoroti tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo dan menyampaikan sejumlah saran terkait pelaksanaan diplomasi Indonesia.
Dino menilai perjalanan kepala negara ke luar negeri memerlukan biaya besar dan perlu dilakukan secara lebih efisien.
Ia antara lain mengusulkan pemanfaatan komunikasi virtual untuk sebagian agenda diplomasi, memperbanyak pertemuan bilateral dalam satu kunjungan, meningkatkan transparansi agenda luar negeri presiden, serta mendelegasikan sebagian tugas diplomasi kepada Menteri Luar Negeri.
"Saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia, mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini," kata Dino.
Baca juga: Teddy: Kunker Presiden Zaman Dino Patti Djalal 120 Orang, Era Prabowo 60
Tujuh Capaian yang Dipaparkan Teddy
1. Bergabung dengan BRICS
Teddy menyebut bergabungnya Indonesia ke BRICS sebagai salah satu hasil diplomasi yang dinilai memperkuat posisi Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurut dia, keanggotaan tersebut berkontribusi terhadap penguatan kerja sama ekonomi dan ketahanan nasional.
2. Kesepakatan Tarif 0 Persen dengan Uni Eropa
Pemerintah juga menyoroti tercapainya kesepakatan tarif 0 persen untuk sejumlah komoditas Indonesia ke pasar Uni Eropa.
Menurut Teddy, proses perundingan tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun sebelum mencapai kesepakatan pada 2025.
Baca tanpa iklan