Laporan Wartawan Tribunnews.com Yogi Gustaman
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Khairuddin (29) tak menyangka, dokter akan menutup selaput pelindung jantung putrinya hari itu. Tak biasanya, Khairuddin datang ke rumah sakit pukul 06.00 WIB. Penutupan selaput berjalan dari pukul 12.30 WIB sampai 15.30 WIB. Tiba-tiba, Khairuddin kaget setelah banyak wartawan berkumpul.
Ia baru tahu kalau tim dokter akan memasang selaput pelindung jantung. Menjelang Magrib, suasana masih ramai. Tak satu pun yang Khairuddin kenal. Satu kali, Khairuddin baru tahu di situ turut hadir Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan pada Kementerian Kesehatan Supriyantoro.
Tak banyak yang dijanjikan Supriyanto, kata Khairuddin kepada Tribunnews.com. "Pak Supriyantoro dan para dokter, meminta saya banyak berdoa. Mereka bilang, para dokter tak lebih manusia biasa. Mereka bilang akan membantu semampu mungkin," begitu kata mereka yang Khairuddin ingat.
Proses penutupan selaput pelindung lancar. Ia tak lagi cemas. Khairuddin merasa tak sabaran melihat kondisi Siti terbaru. Sampai-sampai ia mohon ijin perawat untuk menengok Siti. Hatinya bukan main senang, setelah buah hatinya membuka mata, seakan tahu ayahnya memendam rindu.
"Siti sudah bisa menggenggam jari tangan saya. Kepala dan tangannya saya usap. Saya berdoa, dan berbicara dalam hati dengan Siti, untuk lekas sembuh. Saya bilang, ibundamu tak sabar lagi menunggumu di kampung," terang suami Diana (27), yang hampir sejam bersamanya.
Di ruang Kemuning, Siti tak sendiri mendapat perawatan di dalam inkubator. Ada tiga bayi lainnya yang hidup di dalam tabung. Mereka terlahir dengan kondisi badan normal. Berbeda dengan Siti yang lahir dengan jantung di luar badan. Saking ketatnya, para orangtua harus antri melihat anak mereka.
Baca tanpa iklan