TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pendiri Kompas Gramedia grup Jakob Oetama menyadari ada keterbatasan dalam membawa tongkat estafet kepemimpinan Kompas Gramedia. Tanpa sungkan, pria kelahiran 27 September 1931 ini mengaku tengah mempersiapkan putra mahkota untuk menduduki posisi nomor wahid di Kompas Gramedia.
"Ya, barangkali mulai mempersiapkan," kata Jacob Oetama menjawab pertanyaan Andy F Noya di acara talkshow bertajuk Jakob Oetama the living legend di Hotel Santika, Jakarta, Senin (28/11/2011).
Menurutnya, untuk menjadi pemegang tongkat estafet kepemimpinan Kompas Gramedia, tidaklah mudah. Jakob pun menyertakan kriteria untuk sosok yang akan menggantikannya.
"Kriteria pasti ada. Ya, mempunyai kemampuan memimpin, profesional, dan tahu tentang bisnis (media) ini," ujarnya.
Sebelumnya, Jakob Oetama mengaku tak pernah bermimpi bakal menjadi wartawan dan mengelola media massa yang kemudian menjadi terkemuka. Pilihan menjadi wartawan justru bermula dari keputusan untuk keluar dari seminari (sekolah calon pastor) tinggi di Kota Baru, Yogyakarta, yang baru tiga bulan dijalani.
"Saya tidak tahu sebabnya. Sudah lupa. Keluar begitu saja," ujar founding father Kompas Gramedia tersebut. Yang dilakukan selanjutnya yaitu mencari kerja. Jadi apa? "Jadi guru, cita-cita yang pernah muncul bersamaan dengan cita-cita menjadi pastor," katanya.
Keinginan itu kemungkinan besar tak lepas dari lingkungan Jakob Oetama. Ayahnya, Raymundus Sandiyo Brotosoesiswo, seorang guru sekolah rakyat (sekarang bernama sekolah dasar), yang sering berpindah tugas mulai dari kawasan Jowahan --sekitar 500 meter sebelah timur Candi Borobudur-- hingga Sleman, DI Yogyakarta.
Atas arahan sang ayah, Jakob hijrah ke Jakarta menggunakan kereta api untuk menemui Yosep Yohanes Supatmo. Pria yang masih ada hubungan saudara dengan Sandiyo Brotosoesiswo itu bukan seorang guru, namun baru saja mendirikan Yayasan Pendidikan Budaya, mengelola sekolah-sekolah budaya.
Pertama kali Jakob menjadi guru di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat, 1952-1953. Kemudian pindah ke Sekolah Guru Bagian B (SGB) di Lenteng Agung, Jagakarasa (1953-1954). Selanjutnya mengajar di SMP Van Lith, Jl Gunung Sahari, Jakarta (1954-1956).
Jakob kemudian mendapat tugas tambahan sebagai sekretaris redaksi yang sehari-hari melaksanakan pekerjaan sebagai Pemimpin Redaksi Penabur sejak 1956. Sambil mengajar di SMP, Jakob mengikuti kursus B-1 Ilmu Sejarah. Kemudian kuliah di Perguruan Tinggi Publisistik, Jl Menteng Raya, hingga 1961.
Berkat Ilmu Sejarah, tumbuh minat Jakob untuk menulis. Di sisi lain, ia direkomendasi memperoleh bea siswa di University of Colombia, AS, karena lulus B-1 Sejarah dengan nilai rata-rata 9. Dengan peluang itu Jakob diharapkan menyabet gelar doktor (PhD) dan kelak menjadi sejarawan atau dosen sejarah.
Namun cita-cita menjadi guru mulai goyah. Sampai suatu saat seorang pastor, JW Oudejans OFM menanyakan profesi apa yang kelak ditekuni Jakob. "Jadi dosen," kata Jakob. Namun Oudejans berkomentar, "Jakob, guru sudah banyak, wartawan tidak."
Pada April 1961, Ojong mengajak Jakob membuat majalah baru bernama Intisari, isinya sari pati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Majalah bulanan Intisari terbit pertama kali Agustus 1963. Dan kemudian berlanjut dengan pendirian harian kompas. Dari sinilah konglemerasi perusahaan Kompas Gramedia bermula.
Baca tanpa iklan