Laporan Wartawan Tribunnews.com Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - Pirto Hutagalung masih belum dapat menyembunyikan duka atas kehilangan anak bungsunya, Sondang Hutagalung. Ayah empat anak itu menceritakan kenangan bersama anaknya. Sondang merupakan anak rajin. Sedari Sondang belajar di sekolah dasar hingga sekolah menengah umum, ia tidak pernah mengeluh.
"Biasanya, Sondang jalan kaki ke sekolahnya walaupun jauh, ia juga jarang berbicara mengenai masalahnya," kata Pirto Hutagalung saat ditemui di rumahnya Kampung Tambun Kapling RT02 RW 04 Desa Pahlawan Setia Kecamatan Tarumajaya Bekasi, Jawa Barat, Rabu (14/12/2011) siang kemarin.
Selepas SMU, Sondang sempat bekerja Naga Swalayan sebagai staf bongkar-muat di wilayah Kranji, Bekasi. Ia pekerja keras. Pirto melihat pakaian Sondang selalu basah berpeluh keringat setiap pulang bekerja.
"Saya lalu berpikir, anak saya harus kuliah. Kebetulan saat bawa taksi, saya baca koran Warta Kota (Group Kompas-Gramedia), di situ ada pengumuman Universitas Bung Karno," ujar Pirto.
Koran itu, kata Pirto, langsung dibawanya ke rumah dan diperlihatkannya ke Sondang. Ia pun menceritakan kepada anaknya ada beasiswa dari tempatnya bekerja. "Saya bilang, kalau Sondang mau, ayo kita sama-sama bekerja, saya kerja di taksi maksimal, Sondang hasilkan IP (indeks prestasi) yang bagus," kata Pirto yang langsung disanggupi Sondang.
Pirto bersama Sondang akhirnya menuju kampus UBK. Ia langsung membayar uang pendaftaran sebesar Rp 500 ribu. Sondang lalu tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2007. Pemuda berusia 22 tahun itu, membuktikan ucapannya, indeks prestasinya diatas 3, Pirto pun senang dan langsung mengajukan proposal beasiswa ke kantornya.
"Akhirnya kantor saya yang di Mampang setuju. Saya dapat Rp 1,8 juta setiap bulan. Ibunya sama Sondang yang langsung mengambilnya," katanya.
Belum selesai Pirto bercerita, kakak Sondang, Herman dan ibunya Saur Dame ikut mendengar perbincangan dengan Tribun. Namun, Saur Dame Sipahutar tidak ikut berbicara, ia masih syok atas peristiwa yang dialami Sondang. Herman kemudian menyodorkan makanan timus. "Dicoba, mas. Pemberian warga sekitar," kata Herman, pria lulusan Universitas Gunadarma Kalimalang.
Herman pun mengisahkan saat Sondang akan mengikuti kuliah di UBK. Pada tahun pertama, Sondang berjalan kaki menuju Kota Harapan Indah sejauh lima kilometer untuk mendapatkan angkutan menuju Jakarta. Kemudian saat Herman membeli sepeda, ia dan Sondang berboncengan menuju Kota Harapan Indah.
Baru satu tahun belakangan, Herman dan Sondang menaiki sepeda motor menuju stasiun Kranji. "Dari situ, Sondang naik kereta menuju Jakarta," imbuhnya. (Bersambung)
Baca tanpa iklan