News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Calon Pilot Indonesia Tertipu di Amerika

Calon Pilot Tinggalkan Anak-Istri dengan Bekal Setahun

Editor: Domu D. Ambarita
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI Calon pilot latihan terbangkan pesawat. FOTO/Pacific Flying School

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Setelah video streaming pertama mengenai penipuan calon pilot asal Indonesia di Amerika beredar November, Kabarinews.com mengunggah video kedua, 26 Desember 2011.  Dalam video ini, pewawancara John Oei dan Kapten Hifni duduk searah berhadapan dengan lima calon siswa penerbang yang menjadi korban OM itu.

Mereka berada dalam satu ruangan, seperti live show televisi, namun wajah kelima siswa itu membelakangi kamera. Hanya bagian belakang kepala mereka yang tampak.

Seorang calon pilot mengaku gundah terhadap nasib keluarga, anak istri yang ditinggalkan di Indonesia. "Saya tinggalkan keluarga, saya sudah punya anak. Jadi saya tinggalin budget cuma untuk 1 tahun, kalau diundur nggak tahu harus bagaimana lagi," kata seorang dari mereka.

"Kami tidak bolos, karena tidak ada kendaraan untuk bolos. Dari rumah ke sekolah, selalu dijemput, dan tidak bisa ke mana-mana," kata seorang lainnya sembari menyebut membayar 30 ribu dolar itu sebelum berangkat ke Amerika. Dana itu sudah termasuk ongkos tiket pesawat ke Amerika, biaya hidup selama 7 bulan tinggal di AS. "Bahkan kami dijanjikan langsung kerja di penerbangan sepulang dari sini," kata satunya lagi.

"Tapi ternyata karena tidak sesuai kesepakatan awal, ketika hendak keluar, disodorkan surat utang," katanya.

Menurut mereka, alasan utama tidak bisa melanjutkan sekolah penerbangan karena pesawat tidak tersedia. Aero Tech betul sekolah penerbangan, namun Oscar tidak membayar, sehinga tidak disediakan pesawat untuk dipakai siswa asal Indonesia.

"Persoalan yang sering kami hadapi adalah, pesawat tidak tersedia. Kalau siswa yang lain terbang setiap hari, tetapi kami tidak, hanya sekali dua minggu. Kalaupun dapat pesawat, kami diundur terus dari pagi menjadi siang. Semula instruktur selalu ada, tapi pesawat yang tidak ada. Setelah komplain berulang-ulang, dan bahkan ada yang keluar," ujar seorang dari mereka sembari menyebut dana sektiar 270 juta ditransfer ke rekening Accelerate 36. "Itulah salahnya kami, kami tertipu karena tidak tahu," ujarnya menyesali. (tribunnews/willy widianto)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini