TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua DPR RI, Marzuki Alie, mendukung para mahasiswa yang memecahkan foto Presiden RI sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono di DPR dipolisikan. Sebab, aksi mahasiswa itu bagian dari tindakan perusakan barang DPR sekaligus penghinaan kepada simbol kepala negara.
Demikian disampaikan Marzuki Alie di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (14/3/2012).
Marzuki mengaku mendapat laporan insiden penurunan dan pemecahan foto Presiden SBY dari Wakil Ketua DPR yang menerima aksi para mahasiswa itu, Pramono Anung.
Kepada Marzuki, Pramono menyatakan aksi mahasiswa itu adalah perbuatan yang tidak sopan. Sebab, kelompok mahasiswa itu diterima secara baik oleh Pramono, namun justru mengungkapkan kekecewaan dengan menurunkan dan memecahkan foto Presiden SBY.
"Pramono yang bilang ke saya tadi. Tapi, setelah itu (diterima) kurang ajar katanya. Pramono yang bilang, biarkan saja diproses. Pramono menganggapnya begitu. Ya sudah mas, nggak apa-apa," ujar Marzuki.
Meski saat ini para mahasiswa itu dipolisikan, Marzuki membantah pimpinan DPR yang mengadukan kasus itu. "Bukan dilaporkan. Itu urusan polda lah. Nggak lah (sengaja dilaporkan). Biarkan saja polda yang mengurus, bukan urusan kami kok," kata Marzuki.
Marzuki menilai aksi mahasiswa itu adalah bentuk perusakan sekaligus pelecehan simbol kepala negara.
"Apapun, siapapun gambarnya. Gambar wartawan juga kalau diletakkan di atas situ, itu kan hiasan DPR. Itu kalau wartawan. Misalnya siapa, tokoh wartawan kita diletakkan di sana, kita (merasa) senang, lalu diturunkan dan dipecahkan, kan itu perusakan. Jadi, nggak usah bicara SBY lah, kita bicara yang orang biasa saja, hiasan biasa. Apalagi gambar SBY yang kepala negara," kata Marzuki.
Baca tanpa iklan