TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso menilai, pelaporan dirinya oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) ke Badan Kehormatan (BK) DPR, adalah langkah berlebihan. Menurut Priyo, seharusnya KontraS tak sampai melakukan langkah seperti itu.
"Saya cuma menganjurkan dan berpendapat, masa tidak boleh, untuk melihat ke depan. Ya, ini zamannya lagi begini, silakan saja, saya menghormati. Tapi, memang sedikit agak berlebihan," ujar Priyo di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (26/7/2012).
Sebelumnya, aktivis KontraS yang datang bersama korban dan keluarga korban pelanggaran HAM berat masa lalu, mengadukan Priyo ke BK atas tindakan pelanggaran kode etik.
Karena, Priyo menyatakan bahwa membuka kasus HAM masa lalu, seperti kasus 1965-1966 atau G 30 S/PKI, takkan menyelesaikan masalah.
Pernyataan Priyo menanggapi adanya rekomendasi dari Komnas HAM, bahwa ada pelanggaran HAM berat pada peristiwa 1965-1966.
KontraS mengecam pernyataan Priyo, karena dianggap melukai rasa keadilan para korban pelanggaran HAM.
KontraS menyatakan, Priyo berani mengatakan seperti itu karena latar belakang partainya, Partai Golkar, berkontribusi dalam sejumlah pelanggaran HAM pada orde baru. KontraS pun menjuluki Priyo sebagai tokoh anti-kemanusiaan.
"Ini hanya perbedaan pandangan. Semestinya tidak perlu dicela dan dikecam. Biarkan pandangan-pandangan itu hidup dan memperkaya kita untuk mencari solusi yang terbaik untuk masalah ini. Saya tidak pernah menganjurkan dikubur, hanya saya menginginkan kita menatap ke depan," tutur Priyo.
"Saya menghormati mereka, biarkan saja. Biasanya perbedaan pandangan di sini hal biasa, enggak perlu dengan cara menekan dan mengecam. Kan biasa perbedaan pandangan itu. Konteksnya mencari jalan keluar yang terbaik," paparnya.
Priyo yang juga Ketua DPP Partai Golkar mengaku tidak terlibat dalam kasus 1965-1966. Sebab, Priyo mengaku lahir setelah kejadian itu. Ia lahir di Trenggalek, Jawa Timur pada 30 Maret 1966.
"Saya mohon teman-teman KontraS, jangan terlampau jauh mengecam sebuah pendapat dengan cara itu. Menurut saya itu tidak sehat. Kalau ingin ketemu, saya akan terima untuk mendiskusikan masalah ini," katanya. (*)
BACA JUGA
Baca tanpa iklan